>>> Kemnaker Tutup Program Magang Nasional Batch 3 Tahun 2025

Data dari CME FedWatch mengindikasikan probabilitas pengetatan moneter pada Desember 2026 melonjak hingga 85 persen.

Angka ini naik signifikan dari posisi sebelumnya yang berada di level 61 persen sebelum pengumuman resmi keluar.

"Saya memperkirakan kenaikan harga emas akan tetap terbatas, mengingat pasar telah memperhitungkan kemungkinan besar dimulainya siklus kenaikan suku bunga oleh The Fed," tambah Wong.

Tren penguatan ini turut merembet ke komoditas logam mulia lainnya. Harga perak di pasar global merangkak naik 1,5 persen ke posisi US$ 69,03 per ons.

Selanjutnya, harga platinum terangkat 1,3 persen menuju level US$ 1.759,77.

Komoditas paladium juga tidak ketinggalan dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,4 persen menjadi US$ 1.330,26 per ons.

Secara fungsional, logam mulia kerap diandalkan sebagai instrumen pelindung nilai terhadap ancaman inflasi.

Ketika harga minyak melambung, beban operasional dan biaya transportasi otomatis terkerek naik hingga memicu inflasi makro.

Bank sentral umumnya akan merespons situasi inflasi tinggi tersebut dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan.

Kebijakan ini berpotensi mengurangi daya tarik emas karena aset ini tidak menghasilkan imbal hasil periodik.

Dalam situasi suku bunga tinggi, para investor cenderung memindahkan dana mereka ke instrumen yang memberikan bunga pasti seperti obligasi negara.

>>> Minum Pil KB tapi Tidak Haid, Ini Penyebab dan Cara Membedakannya dengan Kehamilan

Sebaliknya, ketika tekanan inflasi mereda akibat penurunan harga minyak, daya pikat emas sebagai aset safe haven akan kembali menguat di mata pasar.