>>> Kejagung Periksa Sony Sonjaya Terkait Status Justice Collaborator

Selain skenario dasar, UBS memetakan dua kemungkinan arah pergerakan pasar lainnya yang bergantung pada indikator makroekonomi global.

Skenario optimistis menargetkan indeks FTSE 100 menyentuh angka 12.300 pada Juni 2027, sementara skenario buruk memprediksi kejatuhan sebesar 25 persen ke level 7.700.

"The UK market also has a relatively low weight in the industrial sector and therefore may not benefit as much from the manufacturing pick-up we're anticipating, which is in part supported by some investment intensive secular themes, such as AI, electrification and defence spending," tambah UBS.

Pakar strategi UBS Ian Douglas-Pennant secara spesifik menyoroti emiten komoditas Shell Plc yang memiliki bisnis energi terdiversifikasi mulai dari minyak, gas, LNG, energi terbarukan, hingga ritel.

"Diversified energy business (oil, gas, LNG, renewables, retail)," kata analis UBS Ian Douglas-Pennant.

Berdasarkan data Twelfth Magpie, sekitar 75 hingga 80 persen pendapatan FTSE 100 dihasilkan di luar Inggris.

Hal tersebut menyebabkan pelemahan pound sterling justru berpotensi mendorong imbal hasil mata uang lokal yang lebih tinggi dan menarik investasi internasional guna menutup celah valuasi dengan ekuitas Amerika Serikat.

Pergerakan indeks ke depan diprediksi akan lebih banyak didikte oleh pergerakan imbal hasil obligasi dan fluktuasi harga komoditas global dibandingkan berita spesifik dari internal korporasi.

>>> Galaxy Data Center Raih Pendanaan Awal US$250 Juta untuk Infrastruktur Komputasi Hijau

Kebangkitan perang dagang dan kenaikan tajam imbal hasil obligasi menjadi risiko utama yang diantisipasi para pelaku pasar di bursa London.