Pengguna juga dapat mengatur kadar nikotin secara bertahap, sehingga membantu mengurangi keinginan untuk kembali merokok.

Variasi perangkat yang tersedia juga meningkatkan kepatuhan pengguna, terutama bagi perokok dengan ketergantungan tinggi.

>>> Toyota Tolak Peralihan Total ke Mobil Listrik Demi Jaga Pekerjaan

Meski demikian, Amaliya mengingatkan bahwa produk tembakau alternatif bukan berarti bebas risiko. Perbedaan mendasar antara vape dan rokok konvensional terletak pada tidak adanya proses pembakaran pada vape.

Rokok konvensional menghasilkan asap yang mengandung TAR dan karbon monoksida, dua zat berbahaya yang terkait dengan berbagai penyakit.

Sementara itu, vape bekerja melalui sistem pemanasan yang menghasilkan aerosol.

Dalam penelitian terkait kesehatan mulut dan gingivitis, Amaliya menemukan perbedaan kondisi rongga mulut antara perokok dan pengguna produk tembakau alternatif.

Perokok lebih rentan mengalami gangguan gusi, perubahan warna gigi, dan penumpukan plak akibat paparan asap pembakaran.

"Perokok dewasa yang beralih ke produk alternatif menunjukkan kecenderungan kesehatan gusi yang lebih baik.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa produk alternatif bukan bebas risiko dan penggunaannya harus disertai edukasi yang benar," jelasnya.

Menurut Amaliya, edukasi menjadi faktor penting jika pendekatan pengurangan bahaya ingin diterapkan lebih luas.

Ia menegaskan produk alternatif hanya diperuntukkan bagi perokok dewasa yang ingin beralih, bukan untuk non-perokok, remaja, atau ibu hamil.

Di sisi lain, ia menilai pengembangan kebijakan terkait produk tembakau alternatif harus didasarkan pada bukti ilmiah yang objektif dan transparan.

Hal itu mencakup penelitian klinis jangka panjang, keterlibatan akademisi independen, serta regulasi yang mempertimbangkan profil risiko masing-masing produk.

Meski demikian, Amaliya menegaskan bahwa pilihan terbaik bagi kesehatan tetap berhenti sepenuhnya dari penggunaan produk tembakau maupun nikotin.

>>> Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,50 Persen, Rupiah Tertekan

"Pendekatan riset dan kebijakan mengenai produk tembakau alternatif perlu berbasis bukti ilmiah yang objektif dan transparan agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh dan tidak menyesatkan," tutupnya.