Toyota menegaskan tidak akan terburu-buru beralih total ke kendaraan listrik global. Keputusan ini diambil untuk mempertahankan kesenangan berkendara dan melindungi lapangan kerja para pemasok komponen mesin konvensional.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Chairman Toyota, Akio Toyoda, dalam sebuah wawancara.

>>> Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,50 Persen, Rupiah Tertekan

Ia menekankan bahwa mobil bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga mainan yang harus memiliki desain menarik dan suara mesin yang menyenangkan.

"Saya ingin membuat mobil yang ingin saya miliki. Jika saya hanya harus membuat mobil netral karbon, itu tidak menarik," ujar Akio Toyoda.

Kekhawatiran terbesar Toyoda adalah jika seluruh industri otomotif seragam beralih ke kendaraan listrik.

Ia khawatir hal itu akan menghilangkan keberagaman teknologi dan mengancam nasib pekerja di rantai pasok mesin bensin.

"Semua orang beralih ke kendaraan listrik, itulah ketakutan terbesar saya," tuturnya.

Toyoda juga menyoroti dampak sosial dari transisi total ke mobil listrik. Menurutnya, jutaan pekerja yang bergantung pada produksi mesin konvensional bisa kehilangan mata pencaharian.

>>> 11 Pemain dengan Bayaran Tertinggi di Piala Dunia 2026

"Tiga-empat tahun lalu, saya satu-satunya yang mengatakan kepada media bahwa saya menyukai aroma, menyukai suara, dan menyukai mesin.

Saya ingin mempertahankan lapangan kerja bagi pemasok mesin. Tapi tampaknya saya adalah satu-satunya.

Saya merasa sangat sendirian," kata Akio Toyoda.

Strategi Diversifikasi Teknologi

Untuk mewujudkan visinya, Toyota tetap mengembangkan berbagai teknologi ramah lingkungan. Perusahaan asal Jepang ini terus berinvestasi pada hidrogen, fuel cell, dan mesin pembakaran hidrogen.

Selain itu, Toyota juga menyiapkan lini mobil sport baru seperti GR Yaris hybrid, MR2, Celica, dan GR GT bermesin V8 twin-turbo.

>>> Prancis Taklukkan Senegal 3-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Langkah ini menunjukkan komitmen Toyota untuk menyediakan alternatif selain mobil listrik murni.