Belakangan ini, perdebatan ekonomi Indonesia menghadirkan pemandangan menarik. Di satu sisi, pemerintah menjalankan berbagai program untuk memperluas aktivitas ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Program Makan Bergizi Gratis melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai membentuk rantai pasok baru. Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi dan perdagangan di tingkat desa.

>>> Puradelta Lestari Bagikan Dividen Final Rp 795 Miliar, Yield 10,58%

Di berbagai daerah, muncul usulan pembatasan bahkan penutupan minimarket modern dengan alasan memberi ruang lebih besar bagi usaha kecil.

Masing-masing gagasan memiliki tujuan yang sulit ditolak.

Menciptakan pekerjaan, memperkuat ekonomi rakyat, dan mengurangi kesenjangan merupakan agenda yang hampir selalu mendapat dukungan publik. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang muncul di tengah berbagai inisiatif tersebut.

Ketika negara semakin aktif menciptakan pekerjaan, apakah pada saat yang sama negara juga menciptakan lebih banyak pengusaha? Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak populer.

Dalam situasi ekonomi yang masih membutuhkan jutaan lapangan kerja baru setiap tahun, membicarakan pengusaha sering dianggap kurang mendesak dibanding membicarakan pekerja.

Padahal keduanya tidak dapat dipisahkan.

Pekerja mengisi lapangan kerja. Pengusaha menciptakan lapangan kerja.

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya terhadap masa depan ekonomi sangat besar.

Dampak Program Besar terhadap Ekosistem Lokal

Bayangkan sebuah desa dengan seribu kepala keluarga.

Di sana terdapat dua puluh warung, beberapa pedagang sembako, satu distributor kecil, pengrajin rumahan, dan petani yang menjual hasil panennya ke pasar terdekat.

Aktivitas ekonomi berjalan biasa saja. Tidak spektakuler, tetapi cukup untuk menghidupi banyak orang.

Lalu hadir program besar yang didukung modal, jaringan distribusi, dan fasilitas yang jauh lebih kuat dibanding pelaku usaha yang telah ada sebelumnya.