Bahkan dari sudut pandang individu, pilihan tersebut sepenuhnya masuk akal. Masalahnya muncul ketika penyesuaian tersebut terjadi secara massal.

Seorang lulusan perguruan tinggi yang sebelumnya bercita-cita membuka usaha distribusi mungkin memilih jalur yang lebih aman.

Seorang pemilik toko yang sebenarnya siap membuka cabang kedua memutuskan menunda ekspansi sambil menunggu arah kebijakan yang lebih jelas.

Seorang investor kecil memilih menahan modal karena merasa risiko terbesar bukan lagi pasar, melainkan perubahan aturan permainan. Masing-masing keputusan terlihat kecil.

Namun, ekonomi sebuah bangsa pada akhirnya memang dibentuk oleh jutaan keputusan kecil seperti itu. Ironisnya, perubahan tersebut hampir tidak pernah tertangkap oleh statistik konvensional.

Kita bisa menghitung jumlah tenaga kerja yang terserap. Kita bisa mengukur pertumbuhan ekonomi.

Kita bahkan bisa menghitung jumlah investasi yang masuk. Namun, jauh lebih sulit mengukur berapa banyak keberanian yang hilang.

Padahal, keberanian mengambil risiko merupakan bahan bakar utama kewirausahaan. Tidak ada perusahaan besar yang lahir tanpa risiko.

Tidak ada usaha yang berkembang tanpa keberanian mencoba.

Bahkan warung sederhana yang hari ini dianggap biasa pada mulanya juga lahir dari seseorang yang memutuskan mempertaruhkan tabungannya karena percaya ada peluang yang layak diperjuangkan.

Karena itu, negara yang ingin tumbuh cepat sesungguhnya tidak hanya membutuhkan pekerja yang produktif. Negara juga membutuhkan pasokan pengusaha baru yang terus mengalir dari generasi ke generasi.

Tanpa itu, perekonomian akan semakin bergantung pada kemampuan negara menciptakan aktivitas ekonomi. Dan sejarah menunjukkan bahwa kemampuan negara, sebesar apa pun, tetap memiliki batas.

Anggaran memiliki batas. Subsidi memiliki batas.

Program memiliki batas. Sebaliknya, kreativitas masyarakat hampir tidak memiliki batas selama tersedia ruang yang cukup untuk tumbuh.