Industri perbankan nasional masih menghadapi tantangan kondisi ekonomi dan tingginya suku bunga acuan. Meski tensi geopolitik global mulai mereda, pelaku pasar keuangan tetap perlu melakukan penyesuaian strategi.

Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan penurunan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memberikan sentimen positif.

>>> Guru Besar UI Soroti Kerentanan Jutaan Penduduk Miskin yang Naik Kelas

Namun, pemantauan terhadap dinamika ekonomi masyarakat menengah hingga menengah ke bawah harus dilakukan secara cermat.

"Tantangannya banyak, terutama bagaimana terus mencermati kondisi ekonomi, khususnya menengah dan menengah bawah. Tapi kami tetap optimistis," ujar Yuli dalam keterangan resmi, Senin (15/6).

Optimisme tersebut didasarkan pada pandangan global yang masih menempatkan Indonesia sebagai pasar potensial.

Menurut Yuli, potensi ini menjadi modal penting bagi industri jasa keuangan agar tetap tumbuh berkelanjutan di tengah ketidakpastian.

>>> Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Naik Jadi 439,8 Miliar Dollar AS

"Orang luar saja masih melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial. Jadi prospeknya masih ada, hanya kami harus lebih tanggap dan lebih mencermati dinamika kondisi ekonomi," kata Yuli.

Tekanan pada biaya dana atau cost of fund diakui muncul akibat era suku bunga tinggi.

Perbankan berkomitmen mengikuti kebijakan suku bunga demi stabilitas ekonomi nasional, sekaligus dituntut kreatif dalam menghimpun dana murah.

"Bank-bank tentu harus mencari sumber dana murah dan lebih banyak inisiatif serta kreativitas untuk menjaring nasabah," ujar Yuli.

>>> Belanda Tahan Imbang Jepang 2-2 di Laga Perdana Grup F Piala Dunia 2026

Kenaikan beban biaya operasional perbankan menjadi konsekuensi logis yang tidak dapat dihindari dari kebijakan moneter tersebut. "Pasti ada dampaknya ke biaya dana," kata Yuli.