Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengajak seluruh pelajar dan guru di Indonesia untuk menguasai teknologi kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, penguasaan AI menjadi kunci menghadapi transformasi digital yang semakin masif.

>>> Robot Berotot Manusia? Terobosan yang Mengaburkan Batas dengan Kehidupan

"Kita tidak bisa lagi menutup mata, atau sekadar menjadi penonton.

Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," kata Gibran dalam unggahan video di Instagram, Selasa (14/1).

Gibran menjelaskan bahwa dunia saat ini berubah sangat cepat, dari fokus pada literasi baca tulis menuju literasi digital.

Puncak transformasi digital global ditandai dengan hadirnya teknologi AI.

AI sebagai Alat Bantu Belajar

Wapres menekankan bahwa AI harus dipandang sebagai alat untuk mempercepat proses pembelajaran, bukan media yang memicu kemalasan.

Ia mengibaratkan AI seperti asisten pribadi yang mempermudah pencarian data, penguasaan bahasa asing, hingga penyederhanaan rumus matematika.

Namun, Gibran mengingatkan agar penguasaan AI tidak menghilangkan daya kritis generasi muda. Pemanfaatan teknologi baru harus tetap memicu kreativitas dan mempertahankan kemampuan berpikir mandiri.

>>> Dulu Bankir, Kini Main di Piala Dunia Berkat Chat LinkedIn

"Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja," ujar Gibran.

Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi kunci utama mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Ia juga meminta para guru dan orang tua tidak menyerah atau canggung dalam meningkatkan kemampuan diri menghadapi laju teknologi.

Gibran memaparkan bahwa pemanfaatan AI yang bijak dapat memangkas beban administratif guru.

Teknologi ini membantu tenaga pendidik menyusun soal ujian, menyajikan materi menarik, dan memberikan contoh kasus aplikatif bagi murid.

Wapres juga menitipkan pesan tentang pentingnya menjaga etika dan integritas dalam menggunakan AI. Hal ini agar AI tidak disalahgunakan untuk menyebar hoaks, plagiarisme, atau pelanggaran privasi.

Gibran menyampaikan bahwa pemerintah telah menyelesaikan readiness assessment methodology dari UNESCO untuk mengukur kesiapan tata kelola AI nasional.

>>> China Bangun Bendungan Raksasa Motuo di Tibet Senilai USD 168 Miliar

"Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat," tutupnya.