>>> Garena Siapkan Evo Gun AUG Blazing dan Booyah Pass Season 43 Juli

"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah," ujarnya.

Menurut penuturannya, diskusi sempat berlangsung kondusif selama puluhan menit sebelum akhirnya sekelompok peserta mendesak agar acara tersebut segera dihentikan.

"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan.

Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," katanya.

Kondisi yang semakin memanas disertai tindakan fisik memaksa pihak keamanan untuk mengevakuasi para narasumber keluar dari ruang diskusi.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga.

Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ucap Sudaryono.

Sudaryono membantah tudingan bahwa dirinya melarikan diri. Ia menegaskan mereka sempat duduk bersila di aspal demi melanjutkan komunikasi saat mobil mereka dicegat.

"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi.

Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," lanjutnya.

Terkait persoalan agraria di Papua yang ditanyakan mahasiswa, Sudaryono menyatakan siap memverifikasi langsung ke lapangan, bahkan dengan menggunakan dana pribadinya.

"Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya," ujar Sudaryono.

Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa lain yang terganggu dan menegaskan komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang tetap menjunjung tinggi iklim demokrasi.

"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.