"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah.

Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," imbuh Sudaryono.

Ia menyayangkan adanya sekelompok orang yang memicu kericuhan fisik di tengah forum yang semula berlangsung tertib.

Sudaryono menceritakan kronologi evakuasi hingga keputusan untuk kembali menemui mahasiswa di jalanan luar gedung. "Saya merasa ada yang memukul saya.

Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.

Ia menegaskan komitmennya untuk tetap menghadapi kritik mahasiswa secara langsung sebagai bentuk keterbukaan pemerintah.

Terkait persoalan agraria yang disuarakan, Sudaryono menyatakan siap memverifikasi langsung seluruh keluhan yang disampaikan mahasiswa.

"Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya," kata Sudaryono.

Ia juga menekankan bahwa kabinet bentukan Presiden Prabowo Subianto sangat menghargai perbedaan pendapat dalam koridor demokrasi.

Pada akhir keterangannya, Sudaryono menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan menyatakan kesediaan untuk kembali berdialog di masa mendatang.

>>> Pakar ITB Ungkap Dua Penyebab Utama Pemadaman Listrik di Jawa dan Bali

Rombongan pejabat akhirnya berhasil meninggalkan kawasan universitas menggunakan mobil pengawalan polisi setelah menembus barikade mahasiswa.