Wilayah Jawa dan Bali belakangan kerap mengalami pemadaman listrik.

Pakar tenaga listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Ir Kevin Marojahan Banjar Nahor, mengungkap dua kemungkinan utama di balik situasi tersebut.

>>> Jadwal Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: 16 Juni

Faktor pertama adalah force outage atau gangguan mendadak di luar perencanaan. Faktor kedua adalah derating, yaitu penurunan kapasitas produksi pembangkit listrik yang dilakukan secara sengaja.

Kevin menjelaskan bahwa salah satu pemicu pengurangan kapasitas operasional adalah untuk mengamankan cadangan bahan bakar. Pasalnya, ketersediaan stok batu bara dan minyak untuk operasional pembangkit listrik sedang menurun.

Dalam skenario tersebut, operator memilih memangkas daya operasi pembangkit hingga tersisa sekitar 60% dari kapasitas maksimal. Langkah ini diterapkan agar pasokan bahan bakar yang tersisa tidak habis seluruhnya.

Menurut Kevin, jika Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dipaksa beroperasi penuh di tengah kondisi kritis hingga bahan bakar habis, sistem membutuhkan waktu hingga dua hari untuk menyala kembali secara normal.

"Jika dipaksa 100% dan bahan bakar itu habis, maka PLTU membutuhkan dua hari untuk menyala kembali," ujar Kevin seperti dikutip dari akun Instagram resmi ITB, Senin (15/6/2026).

Berdasarkan teori operasi sistem tenaga listrik, setiap jaringan kelistrikan wajib memiliki cadangan daya untuk mengantisipasi kendala tak terduga.

Ketika konsumsi masyarakat mencapai beban puncak, pemadaman bergilir terpaksa dipilih untuk menahan beban sistem sekaligus mencegah pemadaman total (total blackout).

Sektor ketenagalistrikan nasional juga menghadapi tantangan akibat fenomena El Nino yang memicu musim kering berkepanjangan. Cuaca ekstrem ini berpotensi mengganggu stabilitas listrik melalui lonjakan permintaan sekaligus penurunan pasokan.