Kualitas Pasar Tenaga Kerja Stagnan

Meskipun jumlah pekerja bertambah 1,9 juta orang antara Agustus 2024 hingga Agustus 2025 dan pengangguran turun ke 4,9 persen, kualitas lapangan kerja baru dinilai rendah.

Hampir separuh tenaga kerja terserap ke sektor produktivitas rendah seperti pertanian, akomodasi, dan jasa makanan-minuman.

Bank Dunia turut menyoroti tingginya angka pengangguran terselubung atau underemployment di Indonesia yang terus merangkak naik sejak 2022.

>>> Superkomputer Opta Jagokan Spanyol Juara Piala Dunia 2026

Angkanya mencapai 32,7 persen dan terus meningkat secara bertahap.

Menurut Bank Dunia, kondisi ini menggarisbawahi adanya ketidaksesuaian struktural di Indonesia.

Ekonomi menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak cukup pekerjaan produktif dan bergaji tinggi yang dibutuhkan untuk mempertahankan mobilitas sosial ke atas dan memperluas kelas menengah.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, menilai penurunan ini disebabkan oleh karakter lapangan kerja baru yang bersifat survival-based dan tidak menjanjikan mobilitas karier jangka panjang.

Kelas menengah adalah kelompok yang biasanya merasa cukup untuk menabung, merencanakan masa depan, dan bermimpi lebih besar.

Wisnu menambahkan bahwa fondasi lower middle class sangat rapuh terhadap guncangan ekonomi seperti PHK atau kenaikan biaya hidup.

Menurunnya jumlah kelas menengah ini disebabkan sejumlah pekerjaan yang tersedia semakin tidak menjanjikan mobilitas.

Ia menjelaskan bahwa sektor informal dan ekonomi gig tidak menyediakan stabilitas pendapatan. Pekerjaan seperti ini jarang menyediakan stabilitas pendapatan, jaminan sosial, atau jalur karier yang jelas.

Faktor eksternal turut menekan ekonomi domestik lewat sentimen negatif pembekuan sekuritas oleh MSCI dan eskalasi konflik Timur Tengah yang melambungkan harga minyak Brent hingga melewati 100 dollar AS per barel pada Maret 2026.

Tekanan ini berimbas pada pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.000 per dollar AS pada awal Juni.

Wisnu menyoroti bahwa upah riil yang stagnan di tengah lonjakan biaya kebutuhan pokok memicu fenomena income squeeze yang mengikis daya beli.

Upah riil kelas menengah bawah relatif stagnan, sementara biaya perumahan, pendidikan, dan transportasi terus meningkat.

Meskipun inflasi tahunan per Mei 2026 terjaga di angka 3,1 persen, inflasi pangan menyentuh 4,9 persen.

>>> Sucor Sekuritas Optimistis IHSG Berpeluang Menguat ke Level 6.700

Pemerintah merespons dengan menahan harga BBM subsidi dan membebaskan PPN tiket pesawat domestik, sebuah langkah penyelematan daya beli yang menurut Bank Dunia mempersempit ruang fiskal masa depan.