Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak kuartal II-2021.

Namun, di balik angka positif tersebut, laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 dari Bank Dunia mengungkapkan fenomena kontradiktif.

>>> IHSG Berpotensi Mixed Saat Uji Level Psikologis 6.000 Pekan Depan

Proporsi pekerja berpendapatan setara kelas menengah justru merosot tajam.

Angka kelas menengah turun dari 14,5 persen pada 2018 menjadi hanya sedikit di atas 7 persen pada 2025.

Penurunan kualitas kesejahteraan ini dipertegas oleh penyusutan upah riil pekerja berkeahlian menengah dan tinggi sekitar 1 hingga 2 persen per tahun sejak 2018.

Data Mandiri Institute mencatat jumlah kelas menengah menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.

Secara persentase, turun dari 17,1 persen menjadi 16,6 persen dari total populasi.

Sebaliknya, kelompok masyarakat yang berada tepat di bawah kelas menengah atau aspiring middle class melonjak 4,5 juta jiwa.

Kelompok rentan ini sekarang mendominasi dengan mencakup 50,4 persen dari seluruh populasi Indonesia.

Konsumsi Rumah Tangga dan Belanja Pemerintah Jadi Motor Pertumbuhan

Bank Dunia mencatat bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi lebih dari separuh PDB.

Aktivitas belanja masyarakat didorong oleh momen Ramadan dan Idul Fitri yang datang lebih awal, pencairan tunjangan hari raya ASN, serta implementasi awal program Makan Bergizi Gratis.

Sektor pengeluaran pemerintah juga melonjak tajam dan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan sejak kuartal IV-2010.

Di sisi lain, investasi tumbuh 6 persen berkat pelonggaran kebijakan moneter, proyek hilirisasi, dan program prioritas nasional.