Pasar keuangan global mengawali perdagangan Senin dengan penguatan signifikan di Asia. Sentimen positif ini dipicu oleh kabar kesepakatan awal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Kesepakatan tersebut berpotensi meredakan tekanan inflasi global serta mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral.

>>> Prabowo Perkuat Kerja Sama Tenaga Kerja dengan Jerman di Sektor Strategis

Harga minyak mentah mengalami penurunan tajam karena ekspektasi meredanya risiko gangguan pasokan, khususnya di kawasan Selat Hormuz.

Saham Asia dan Eropa Reli

Indeks utama di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menguat tajam, mencerminkan meningkatnya selera risiko investor.

Penguatan ini terjadi setelah kabar bahwa kesepakatan awal AS-Iran berpotensi membuka kembali jalur perdagangan energi global yang lebih stabil.

Analis Sean Callow mengatakan, "Kurangnya rincian terutama terkait kebebasan pelayaran memang menjadi kekhawatiran, tetapi tidak sampai membatasi pasar hari ini karena meningkatnya selera risiko sedang berlangsung."

Pasar Eropa dan Amerika Serikat juga menunjukkan penguatan massal. Futures EUROSTOXX 50 dan DAX naik 1,7 persen, sementara Futures FTSE naik 0,7 persen.

Futures S&P 500 naik 1,1 persen dan Nasdaq futures melonjak 1,8 persen.

Harga Minyak Anjlok Tajam

Harga minyak Brent turun 4,7 persen menjadi sekitar USD 83,24 per barel, jauh di bawah puncak Mei yang sempat mencapai USD 126,41.

Minyak mentah AS turun lebih dalam sebesar 5,5 persen ke level USD 80,16 per barel.

Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa jalur penting perdagangan energi global, termasuk Selat Hormuz, tidak akan kembali ditutup.

Vivek Dhar memperkirakan harga berjangka Brent turun ke USD 80 pada akhir tahun dengan asumsi selat tersebut tidak kembali ditutup.