Ia menambahkan bahwa proyeksi tersebut masih mengandung ketidakpastian, terutama terkait potensi kerusakan infrastruktur energi di kawasan konflik.

>>> BEM UI Pilih Evaluasi Gerakan dan Absen dari Demo Mahasiswa di Jakarta

Dampak ke Kebijakan Moneter

Turunnya harga energi menjadi faktor penting bagi bank sentral global yang tengah bersiap menggelar pertemuan kebijakan moneter pekan ini.

Penurunan harga minyak dipandang dapat meredakan tekanan inflasi, sehingga mengurangi kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Analis menilai kondisi ini dapat mengubah arah kebijakan moneter global, terutama di tengah kekhawatiran inflasi berbasis energi.

Mata Uang dan Obligasi

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama.

Euro naik 0,4 persen ke USD 1,1608, sementara poundsterling menguat 0,3 persen ke USD 1,3446.

Namun dolar masih relatif kuat terhadap yen Jepang di level 160,13, meskipun Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1 persen.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 2 tahun turun 6 basis poin ke 4,02 persen, mencerminkan meningkatnya ekspektasi pelonggaran tekanan inflasi.

Bank Sentral Dunia Pantau Risiko

Sejumlah bank sentral utama dunia dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan minggu ini, termasuk di AS, Inggris, Jepang, Australia, Swiss, Swedia, Norwegia, hingga Rusia.

Pasar menantikan sinyal arah kebijakan suku bunga, terutama dari The Federal Reserve yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%.

Investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun ini, seiring meredanya tekanan inflasi.

>>> Spanyol Incar Rekor Tak Terkalahkan Lawan Cape Verde di Piala Dunia 2026

Di pasar komoditas, emas naik 2,5 persen menjadi USD 4.322 per ons karena turunnya yield obligasi.