Prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak pada politik dan keamanan, tetapi juga berpotensi memberikan stimulus ekonomi yang signifikan bagi Indonesia.

Meredanya ketegangan geopolitik diperkirakan dapat menurunkan premi risiko global, memperbaiki sentimen dunia usaha, serta menekan harga energi.

>>> PT Wahana Interfood Nusantara Tbk Kumpulkan Rp266,96 Miliar Lewat Rights Issue

Momentum ini juga dapat mengarahkan kembali arus modal ke aset produktif di negara berkembang.

Berdasarkan teori portfolio balance dan risk premium, penurunan ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan portofolio dari aset aman menuju negara dengan prospek pertumbuhan lebih baik.

Indonesia berada pada posisi menarik karena momentum eksternal ini berbarengan dengan reformasi domestik melalui revisi UU P2SK, percepatan hilirisasi, serta penguatan infrastruktur pasar.

Pengalaman historis menunjukkan bahwa meredanya konflik biasanya diikuti penurunan tekanan inflasi global, stabilisasi harga energi, dan membaiknya investasi.

Apabila rupiah sebelumnya tertekan hingga sekitar Rp 18.190 per dolar AS, apresiasi sebesar 2–5 persen dapat membawanya ke kisaran Rp 17.826–Rp 17.281.

Jika momentum perdamaian diperkuat reformasi fiskal, kredibilitas kebijakan moneter, dan pendalaman sektor keuangan, penguatan secara konseptual dapat mencapai Rp 17.462–Rp 16.917.

Pada pasar saham, jika titik acuan menggunakan level IHSG sekitar 5.318 poin, pemulihan 5–10 persen berpotensi mendorong indeks ke kisaran 5.584–5.850 poin.

Ruang penguatan dapat melebar hingga sekitar 5.743–6.116 poin dengan dukungan reformasi struktural serta peningkatan kepercayaan investor.

Sementara itu, penurunan premi risiko berpotensi menekan imbal hasil SBN tenor 10 tahun sekitar 20–75 basis poin sehingga biaya pembiayaan pemerintah dan dunia usaha menjadi lebih efisien.

Jika harga minyak Brent bertahan pada kisaran 60–70 dollar AS per barel, Indonesia berpeluang menikmati inflasi yang lebih rendah sekitar 0,2–0,5 poin persentase.