Pandemi Covid-19 memang sudah berlalu, tetapi dampaknya masih terasa di sektor otomotif. Salah satu fenomena yang meresahkan adalah harga mobil bekas yang tetap tinggi dan sulit dijangkau konsumen.

Laporan Carscoops menyebutkan sekitar 8 juta unit kendaraan gagal diproduksi selama masa lockdown pada 2020 hingga 2021.

>>> Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Tembus 439,8 Miliar Dollar AS

Hal ini menciptakan celah besar dalam rantai pasokan yang memicu kelangkaan unit mobil bekas di pasar.

Kenaikan harga diperparah oleh kebijakan produsen yang lebih memprioritaskan model dengan keuntungan besar, seperti SUV dan pick-up premium.

Akibatnya, harga rata-rata mobil baru melonjak dan secara otomatis menyeret naik harga mobil bekas.

Meskipun penjualan mobil mulai pulih ke angka 16,2 juta unit pada 2025, angka tersebut masih di bawah pencapaian tahun 2016 yang menembus 17,55 juta unit.

Kesenjangan ekonomi juga menjadi faktor krusial yang memperumit situasi.

>>> Inggris Hadapi Ujian Berat Melawan Kroasia di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Daya Beli Masyarakat Tertinggal

Senior Vice President JD Power, Tyson Jominy, memberikan gambaran nyata mengenai situasi ini. "Harga kendaraan naik sekitar sepertiga, tetapi gaji dan pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sebanding," ungkapnya.

Saat ini, pembeli mobil baru di Amerika Serikat rata-rata memiliki pendapatan di atas Rp2,4 miliar per tahun.

Padahal, rata-rata pendapatan rumah tangga di sana hanya berkisar Rp1,28 miliar per tahun.

Minimnya insentif pembelian yang hanya berada di kisaran 6,5 hingga 7 persen juga membuat konsumen semakin tertekan.

>>> Wayne Rooney Kritik Pemanggilan Trevoh Chalobah oleh Thomas Tuchel

Dengan kondisi stok yang belum pulih total dan daya beli yang tertinggal, harga mobil bekas diperkirakan akan tetap sulit turun.