Fluktuasi harga energi global dalam beberapa bulan terakhir berdampak pada biaya mobilitas masyarakat.

Harga minyak dunia yang tidak menentu, ketidakpastian geopolitik, dan penyesuaian harga BBM non-subsidi membuat efisiensi kendaraan menjadi prioritas.

>>> Pemilik Motor Listrik Wajib Periksa Tegangan Baterai SLA Berkala

Meskipun demikian, kebutuhan mobilitas harian tetap berjalan untuk berbagai aktivitas. Kondisi ini mengubah cara pandang konsumen dalam memilih kendaraan, yang kini lebih mempertimbangkan biaya penggunaan jangka panjang.

Teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menjadi semakin relevan. Teknologi ini menggabungkan motor listrik dan mesin bensin untuk memberikan efisiensi sekaligus fleksibilitas.

PHEV memiliki baterai lebih besar dibandingkan hybrid konvensional dan dapat diisi ulang dari sumber listrik eksternal.

Mobil dapat berjalan dalam mode listrik untuk sebagian besar penggunaan harian, sementara mesin bensin aktif saat baterai berkurang.

Mode listrik memberikan pengalaman berkendara yang lebih halus, senyap, dan responsif di dalam kota.

Untuk perjalanan jauh, mesin bensin bekerja otomatis sehingga pengemudi tidak khawatir dengan keterbatasan infrastruktur pengisian daya.

Mayoritas mobilitas harian masyarakat Indonesia berada di bawah 30 km atau 60 km per hari. Artinya, banyak kebutuhan mobilitas sebenarnya dapat dipenuhi hanya dengan tenaga listrik.

Perbandingan Estimasi Biaya Energi

Penggunaan listrik berpotensi lebih efisien dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin dari sisi biaya energi.

Kendaraan bermesin bensin memiliki estimasi biaya energi sekitar Rp33.750 hingga Rp68.750 per hari dengan harga BBM non-subsidi sekitar Rp16.250 per liter.

Biaya tersebut setara dengan Rp843.750 hingga Rp1,7 juta per bulan untuk 25 hari penggunaan.

>>> Kemenhub Sediakan Proving Ground Bekasi untuk Uji Kendaraan Mulai Rp1 Juta