Menangis kerap diidentikkan dengan kelemahan, sehingga banyak orang meremehkan emosi ini dan melabeli seseorang sebagai cengeng.

Padahal, aktivitas menangis bisa menjadi penanda kepribadian yang penuh empati, sensitif, dan memiliki kepekaan emosional yang dalam.

>>> Manfaat Probiotik untuk Kesehatan Pencernaan dan Tubuh

Dilansir dari HaiBunda, individu yang gampang menangis sebenarnya menyimpan kekuatan emosional yang besar.

Memahami karakter ini penting untuk mengenali perasaan mereka dan mempermudah komunikasi serta pembangunan koneksi interpersonal.

Ciri Psikologis Orang yang Mudah Menangis

Individu yang mudah menangis biasanya tidak merasa terganggu saat memperlihatkan sisi rentan di hadapan publik.

Sikap ini mencerminkan karakteristik positif di tengah masyarakat yang sering menyembunyikan emosi karena takut dianggap lemah.

Mengekspresikan kerentanan dalam batas tertentu dapat menjadi kekuatan tersendiri dan menunjukkan kepedulian rendah terhadap penilaian negatif orang lain.

Kemampuan menerima, menilai, dan mengelola emosi pribadi serta memahami perasaan sesama dikenal sebagai kecerdasan emosional atau EQ.

Pemilik sifat mudah menangis dinilai memiliki kapasitas EQ yang mumpuni, mampu terhubung dengan perasaan sendiri dan orang lain, lalu meluapkannya melalui air mata.

Sifat mudah terenyuh juga berkorelasi langsung dengan tingkat empati yang tinggi.

>>> Cara Mudah Mendeteksi Alat Pelacak Liar Menggunakan Smartphone

"Orang dengan empati tinggi lebih mudah menangis baik dalam situasi positif maupun negatif dibandingkan orang dengan empati rendah," kata pakar psikologi Sebastian Ocklenburg, Ph.

D.

Gaya keterikatan seseorang dalam hubungan juga memengaruhi frekuensi menangis. Mereka yang gampang menangis memilih tidak lari dari persoalan.

Respons menangis menjadi sarana sehat untuk melepaskan ketegangan dari konflik yang dihadapi.

Hubungan persahabatan yang kokoh membutuhkan keterbukaan emosional. Kecerdasan emosional yang baik pada orang yang sering menangis dapat memotivasi orang lain untuk mengekspresikan perasaan mereka.

Menumpahkan air mata tidak selalu berdampak buruk. Mereka yang mengekspresikan emosi ini dinilai lebih tulus, dapat diandalkan, penuh kasih sayang, dan memiliki agresivitas rendah.

Berdasarkan jurnal Psychotherapy tahun 2020, sekitar 50 persen individu merasakan kondisi psikologisnya membaik setelah menangis, sementara hanya 10 persen yang merasa keadaannya memburuk.

"Apakah seseorang mendapat manfaat dari menangis atau tidak sangat bergantung pada orang-orang di sekitarnya.

>>> Skotlandia Akhirnya Menang Lagi di Piala Dunia Setelah 36 Tahun

Jika mereka memberikan dukungan dan kenyamanan, orang yang menangis kemungkinan besar akan merasa lebih baik," tutur Sebastian Ocklenburg.