Setelah riuhnya Lebaran usai, pernahkah kita menyadari bahwa di balik tumpukan setrikaan di rumah, ada kerja sunyi yang sering luput dari perhatian?

Lebaran selalu hadir dengan suasana hangat, meriah, dan penuh kebersamaan. Rumah dipenuhi tawa, meja makan tak pernah benar-benar sepi, dan pakaian terbaik dikenakan sebagai simbol kebahagiaan.

>>> Facebook dan Instagram Alami Gangguan Massal, Jutaan Pengguna Terdampak

Namun, seperti halnya setiap perayaan, Lebaran pun memiliki jeda. Ketika tamu terakhir berpamitan dan rumah kembali tenang, tumpukan pakaian menunggu untuk disetrika.

Jejak Perayaan yang Tertinggal

Di sudut rumah, tumpukan setrikaan itu mungkin terlihat biasa.

Namun setiap helai pakaian menyimpan cerita—baju yang dikenakan saat bersalaman dengan orang tua, pakaian yang menemani kunjungan ke rumah kerabat, hingga busana yang dipakai dalam perjalanan mudik.

Setrikaan bukan sekadar pekerjaan rumah, melainkan arsip kecil dari pengalaman sosial yang baru saja dilalui.

Kerja Sunyi yang Tak Terlihat

Di balik tumpukan itu, ada kerja yang sering luput dari perhatian. Ia dilakukan tanpa sorotan, tanpa apresiasi berarti, dan kerap dianggap sebagai bagian rutin yang tidak perlu dibicarakan.

Pekerjaan ini membutuhkan waktu, tenaga, dan ketelatenan.

Ia adalah bagian dari invisible labor—kerja domestik yang tidak selalu terlihat sebagai kontribusi, tetapi menjadi fondasi kenyamanan bersama.

Dalam konteks pasca Lebaran, beban ini terasa semakin nyata. Setelah mempersiapkan hidangan, menyambut tamu, dan menjaga suasana tetap hangat, masih ada pekerjaan lanjutan yang menunggu.

Sering kali, pekerjaan ini melekat pada peran tertentu dalam keluarga, terutama perempuan.

Tanpa disadari, ada pembagian peran secara kultural: sebagian anggota keluarga menikmati hasil perayaan, sementara sebagian lainnya tetap bekerja di balik layar.