Di sebuah kafe di Moskwa, seorang desainer interior harus menyalakan VPN di ponselnya agar bisa berkomunikasi dengan teman di luar negeri melalui WhatsApp, aplikasi yang kini diblokir pemerintah Rusia.

Tak lama kemudian, ia mematikan VPN tersebut untuk mengakses situs Kereta Api Rusia yang melarang penggunaan alat pengabur lokasi.

>>> AI Seoul Deteksi Percobaan Bunuh Diri di Jembatan Sungai Han

Ia juga mengambil ponsel kedua dari tasnya, perangkat khusus untuk melayani klien melalui aplikasi MAX, platform komunikasi yang dikendalikan negara.

Inilah potret kehidupan digital warga Rusia saat ini.

Sejak Kremlin memperketat kendali internet tahun ini, warga terpaksa melakukan akrobat teknis demi menghindari pengawasan negara dan tetap bisa mengakses aplikasi asing seperti WhatsApp atau Telegram.

Upaya pemerintah mencapai kedaulatan digital ini telah memicu gangguan pada sektor perbankan, transportasi, hingga perdagangan elektronik. Beberapa pesohor media sosial yang biasanya apolitik mulai menyuarakan kritik.

Frustrasi akibat pembatasan ini, ditambah naiknya harga kebutuhan pokok dan pajak, dinilai menjadi pemicu turunnya tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Vladimir Putin.

Data VTsIOM menunjukkan popularitas Putin sempat merosot ke angka 65,6% pada April 2026, level terendah sejak konflik Ukraina meletus 2022.

Bagi warga seperti Irina (41), membawa dua ponsel adalah cara paling aman agar privasinya tidak terpantau. "Tentu saja ini sangat merepotkan, tapi apa lagi yang bisa kita lakukan?

Anda harus terbiasa menghabiskan hari dengan bolak-balik menyalakan VPN dan mengganti-ganti ponsel," ujarnya.

Data dari Digital Budget mencatat lonjakan drastis unduhan VPN di Rusia.

Pada Maret 2026 saja, terdapat 9,2 juta unduhan layanan VPN di Google Play Store, 14 kali lipat lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.