Pemerintah Diminta Antisipasi Dampak Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah diminta mengantisipasi dampak lanjutan dari kebijakan penyesuaian harga Pertamax yang mulai berlaku sejak Rabu, 10 Juni 2026.
Langkah antisipasi diperlukan untuk menahan potensi peralihan konsumsi ke bahan bakar minyak bersubsidi serta menjaga daya beli masyarakat.
>>> SNK Kembangkan Dua Proyek Game Baru Metal Slug untuk Rayakan 30 Tahun
Dosen Senior Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr. Antonius Budisusila, menilai kebijakan ini merupakan respons terhadap harga keekonomian.
Menurutnya, pemerintah wajib mengedepankan strategi komunikasi publik yang cepat dan berbasis data.
"Pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan kecepatan, kejujuran, empatik, konsisten, berbasis data, memberi kepastian tindakan, akuntabel, dialogis, adil, dan terbuka terhadap evaluasi," ujar Antonius, Sabtu (13/6/2026).
Faktor Eksternal dan Risiko Migrasi
Faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak mentah dunia, ketidakpastian geopolitik global, dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi pemicu utama penyesuaian harga ini.
"Kenaikan harga Pertamax ini bisa dipahami sebagai langkah penyesuaian terhadap harga keekonomian BBM nonsubsidi. Tekanannya datang dari harga minyak global dan pelemahan nilai tukar rupiah," kata Antonius.
Kenaikan harga Pertamax yang mencapai sekitar 32 persen dalam waktu singkat dikhawatirkan memicu migrasi besar-besaran pengguna BBM nonsubsidi ke Pertalite.
>>> IHSG Ditutup Menguat ke 6.007, Asing Borong Saham BBCA, DSSA, TPIA
Situasi tersebut menuntut pengetatan pengawasan distribusi dari pemerintah agar tidak membengkakkan beban anggaran negara.
Selain pergeseran konsumsi, Antonius mengingatkan bahwa lonjakan biaya energi berisiko menekan pengeluaran rumah tangga.
Sektor konsumsi rumah tangga selama ini memegang peran krusial sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
"Pemerintah perlu mengantisipasi dampak berantai dari kebijakan ini agar tidak semakin menggerus daya beli masyarakat dan memperlambat konsumsi rumah tangga," ujar Antonius.
Transparansi serta pelaksanaan evaluasi kebijakan harga secara berkala dipandang penting untuk memelihara kepercayaan masyarakat.
>>> Kejagung Ungkap Motor Listrik Program MBG Menumpuk di Gudang Sentul
Pemerintah diharapkan terus memantau pergerakan indikator ekonomi agar kebijakan fiskal tetap selaras dengan kemampuan riil finansial publik.
Update Terbaru
Bukan Nasab Ayah, Nama Ibu Jennifer Coppen Disebut dalam Akad Nikah Justin Hubner
Sabtu / 13-06-2026, 13:47 WIB
PT Sumaco Wahana Utama Rampungkan Tinjauan Administrasi Bea Cukai
Sabtu / 13-06-2026, 13:46 WIB
Jadwal Perebutan Juara 3 ASEAN U19: Kamboja vs Indonesia 13 Juni 2026
Sabtu / 13-06-2026, 13:44 WIB
Bukan Karena DEMO! Meta Alami Gangguan Global, Facebook dan Instagram Sempat Tidak Bisa Diakses
Sabtu / 13-06-2026, 13:44 WIB
Komentar Gianni Infantino Soal Italia Tuai Kecaman Politisi
Sabtu / 13-06-2026, 13:42 WIB
Timnas Indonesia U-19 Incar Rekor Finis Ketiga Terbanyak di Piala AFF
Sabtu / 13-06-2026, 13:42 WIB
Alasan Elon Musk dan Mark Zuckerberg Pilih Cicil Rumah Mewah Terungkap
Sabtu / 13-06-2026, 13:42 WIB
Kemenag Buka Pendaftaran Nikah Massal Gratis di Jakarta hingga 23 Juni 2026
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB
KKP Siapkan Insentif dan Disinsentif Pengelolaan Sampah bagi Pemda
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB
Anker Luncurkan TWS Soundcore Liberty 5 Pro Series di Indonesia
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB
Christian Pulisic Cetak Assist, Lewati Rekor Cristiano Ronaldo di Piala Dunia
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB
KPK Geledah Kantor dan Rumah Dinas Bupati Muara Enim
Sabtu / 13-06-2026, 13:36 WIB
Timnas AS Libas Paraguay 4-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sabtu / 13-06-2026, 13:36 WIB
Delegasi Indonesia Juara Kompetisi Pump It Up di Korea Selatan
Sabtu / 13-06-2026, 13:36 WIB






