Pendidikan gratis sering dianggap sebagai pencapaian akhir dalam mencerdaskan bangsa. Namun, kebijakan ini justru memunculkan lapisan persoalan baru yang jarang dibahas.

Di balik penghapusan SPP, masih ada biaya lain seperti seragam, buku, kegiatan sekolah, transportasi, hingga kebutuhan digital. Akses pendidikan tidak otomatis berbanding lurus dengan kenyamanan belajar.

>>> Pochettino Waspadai Agresivitas Paraguay di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Tragedi di Ngada: Alarm Kegagalan Sistem

Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun dari Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena seharga sepuluh ribu rupiah.

Kompasianer Adib Abadi menggambarkan beban psikologis yang ditanggung anak tersebut: rasa malu di sekolah, ketidakmampuan mencatat, dan ketidakberdayaan melihat ibunya yang tak mampu memenuhi kebutuhan dasar.

"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan kesedihan dan kemarahan ini. Saya hanya seorang pedagang di kota kecil.

Saya tidak punya kekuatan untuk mengubah sistem," tulisnya.

Kompasianer Ditta Atmawijaya menyoroti luka laten yang tersembunyi di balik keceriaan anak.

Permintaan sederhana berupa buku dan pulpen yang tak terpenuhi menjadi simbol harga diri dan titik runtuh emosional.

Tragedi ini dibaca sebagai kegagalan sistemik.

>>> Aksi Dua Kakek India Masak Nasi Lemak Porsi Jumbo Viral

Pemetaan sosial di tingkat desa dan peran sekolah sebagai jembatan perlindungan emosional dinilai penting, bukan sekadar institusi akademik.

Jika depresi laten terus diabaikan, sekolah dan lingkungan bisa berubah dari tempat bertumbuh menjadi penjara sunyi.

Kompasianer Akbar Pitopang menegaskan bahwa peristiwa ini tidak bisa disederhanakan sebagai masalah individu. Ini adalah cerminan kegagalan sistemik dalam melindungi anak-anak paling rentan.