Sembilan dari sepuluh warga Prancis mengaku selalu memilah kemasan produk sehari-hari.

Namun banyak orang keliru menganggap bahwa kemasan yang bisa didaur ulang pasti selalu ramah lingkungan.

>>> Kue Pais Singkong Simpan Ketangguhan Hidup Masyarakat Adat Tidung

Para peneliti menggunakan metode yang disebut analisis siklus hidup untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari berbagai bahan kemasan.

Evaluasi tersebut mencakup seluruh proses dari ekstraksi bahan baku hingga tahap akhir masa pakai kemasan.

Perbandingan Kinerja Berbagai Bahan Kemasan

Kaca sering dianggap sebagai bahan yang paling hijau dan murni di antara pilihan lainnya.

Faktanya, berat kaca yang tinggi menuntut energi bahan bakar lebih besar saat proses transportasi.

Pembuatan kaca juga memerlukan suhu sangat tinggi yang menghabiskan banyak energi pada setiap tahapannya.

Material kaca baru menunjukkan keunggulan ekologis apabila digunakan kembali secara berulang-ulang melalui sistem deposit botol.

Kertas dan kardus dinilai sangat mudah diurai serta dikumpulkan untuk proses daur ulang.

>>> Panduan Membersihkan Bunga Es di Freezer Secara Efektif Tanpa Merusak Perangkat

Kendati demikian, produksi kertas memerlukan pasokan air serta energi dalam jumlah besar.

Aluminium menghasilkan emisi gas rumah kaca yang cukup tinggi pada pembuatan tahap awalnya.

Proses daur ulang aluminium justru mampu menghemat energi hingga sekitar 95% dibandingkan produksi dari awal.

Siklus daur ulang aluminium tersebut dapat berlangsung hampir selamanya tanpa penurunan kualitas yang signifikan.

Plastik mempunyai bobot ringan dengan tingkat emisi produksi serta transportasi yang relatif rendah.

Akan tetapi, masalah besar muncul pada tahap akhir penggunaan setelah produk plastik dibuang.

Sebagai contoh di Prancis, hanya sekitar seperempat limbah kemasan plastik yang benar-benar berhasil didaur ulang.