Popok Sekali Pakai Jadi Sumber Sampah Berbahaya, Peneliti Tawarkan Beberapa Solusi
Setiap menit, lebih dari 300.000 popok sekali pakai dibuang di seluruh dunia.
Bersama pembalut dan produk inkontinensia, limbah ini diperkirakan menghasilkan 160–200 juta ton sampah setiap tahun.
>>> BI dan Pemprov Sumut Perkuat Sinergi Lewat Kreatif Sumut 2026
Sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar, menambah beban pencemaran plastik dan emisi. Sebuah penelitian yang dipimpin peneliti dari University College London (UCL) menawarkan jalan keluar.
Alih-alih mengandalkan satu solusi, mereka menyebut persoalan limbah produk kebersihan sekali pakai memerlukan perubahan menyeluruh, mulai dari kebiasaan masyarakat, inovasi teknologi, hingga kebijakan publik.
Hasil penelitian yang diterbitkan di Nature Sustainability itu mengusulkan tiga langkah utama untuk mengurangi dampak lingkungan dari produk penyerap cairan (absorbent hygiene products/AHP), seperti popok bayi, popok dewasa, dan pembalut.
Langkah pertama adalah mengurangi penggunaan sejak awal. Peneliti menilai pelatihan toilet (toilet training) yang dilakukan lebih dini dapat mengurangi jumlah popok yang digunakan anak.
Selain berpotensi menekan timbulan sampah, pendekatan ini juga dinilai bermanfaat bagi kesehatan kandung kemih dan usus anak.
Namun, mereka mengakui perubahan tersebut tidak mudah dilakukan. Banyak orang tua menghadapi keterbatasan waktu, kurangnya panduan, serta menganggap popok sekali pakai sebagai pilihan paling praktis.
Karena itu, peneliti menyarankan dukungan yang lebih besar dari tenaga kesehatan, tempat kerja, dan layanan pengasuhan anak agar keluarga lebih mudah menerapkan kebiasaan yang menghasilkan lebih sedikit sampah.
Dukungan ini bisa berupa penyediaan fasilitas toilet yang ramah anak, cuti orang tua yang memadai, serta edukasi tentang manfaat pelatihan toilet dini.
Langkah kedua adalah mempercepat pengembangan teknologi daur ulang.
Popok bekas sulit didaur ulang karena mengandung campuran plastik, serat, bahan penyerap, serta terkontaminasi limbah manusia dan sisa obat-obatan.
Update Terbaru
Ikan Sidat Asal Indonesia Ternyata Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia, Kalahkan Salmon
Minggu / 26-07-2026, 17:58 WIB
Solusi Anti Pegal Saat Macet Pakai Fitur Canggih Daihatsu Rocky Hybrid
Minggu / 26-07-2026, 17:57 WIB
Tips Memilih Warna Bedak Sesuai Warna Kulit untuk Makeup Flawless
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
6 Tampang Pelaku Pengeroyokan Pria yang Dituduh Maling Ayam di Bali Hingga Tewas
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Menepi Sejenak di Tengah Jakarta hingga Kuliner Tanah Air Autentik
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Diskon Jutaan Rupiah untuk AC dan Mesin Cuci di Transmart Hari Ini
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Ini Beras Termahal di Dunia, Harganya Tembus Jutaan Rupiah Per Kg
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Transformasi Kampung di Jaksel: Dari 'Gotham City' Menuju Smart Village Berteknologi
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Powerball Jackpot Mencapai $600 Juta, Ini Angka Pemenangnya
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
The Rookie Season 9 Production Begins as Extended Cut of Season 8 Drops on Hulu
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Kewenangan Hitung Kerugian Negara Kembali ke BPK, Metode Audit BPKP Disorot
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Mantan Jubir KPK Febri Diansyah Buka Suara soal Bela Tersangka Korupsi Eks Jampidsus
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Menkum Bantah Kenaikan Tarif Lepas WNI Cari Untung, Siap Evaluasi
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB
Cak Imin Ajak Semua Partai Revisi 108 UU demi Sukseskan Prabowonomics
Minggu / 26-07-2026, 17:20 WIB







