Saat ini, teknologi yang tersedia baru mampu memulihkan sebagian material.

Para peneliti mendorong pengembangan sistem yang dapat mendaur ulang seluruh komponen popok sekaligus memastikan proses dekontaminasi mampu menghilangkan patogen dan residu obat secara aman.

Inovasi ini memerlukan investasi dalam riset dan infrastruktur, serta kerja sama antara produsen, pengelola limbah, dan pemerintah.

Langkah ketiga adalah mengembangkan produk yang benar-benar dapat terurai secara hayati. Menurut penelitian tersebut, banyak produk yang dipasarkan sebagai "biodegradable" belum sepenuhnya dapat dikomposkan.

Masih diperlukan inovasi agar popok tetap memiliki daya serap yang baik sekaligus aman diolah menjadi kompos atau biogas.

>>> Peringati Hari Anak Nasional, Pertamina Ajak Generasi Muda Jadi Green Warriors Penyelamat Bumi

Bahan baku seperti serat bambu atau pati jagung mungkin menjadi alternatif, namun harus diuji ketahanan dan dampak lingkungannya secara menyeluruh.

Peneliti juga menekankan bahwa solusi tidak dapat diseragamkan untuk semua negara. Di negara berpendapatan tinggi, peningkatan daur ulang dan pengurangan penggunaan dinilai lebih efektif.

Sementara di negara dengan infrastruktur pengelolaan sampah yang terbatas, pendekatan seperti pengomposan atau sistem pembuangan yang sesuai dengan kondisi lokal mungkin lebih relevan.

Misalnya, di daerah pedesaan, pengomposan popok yang terurai hayati bisa menjadi solusi, sementara di perkotaan, pengumpulan terpisah dan daur ulang mekanis lebih cocok.

Bagi tim peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa produk kebersihan sekali pakai merupakan kebutuhan penting bagi kesehatan dan martabat manusia.

Tantangannya adalah memastikan kebutuhan tersebut tetap terpenuhi, sembari membangun sistem yang menghasilkan lebih sedikit limbah dan lebih ramah terhadap lingkungan.

Mereka berharap rekomendasi ini dapat diadopsi oleh pemerintah, industri, dan masyarakat untuk mengurangi dampak negatif dari limbah popok dan produk kebersihan lainnya.