China bersiap menghadapi gelombang besar baterai kendaraan listrik (EV) bekas yang diperkirakan mencapai lebih dari 1,1 juta metrik ton per tahun pada 2030.

Pemerintah Beijing akan mewajibkan setiap baterai kendaraan energi baru memiliki identitas digital semacam paspor yang melacaknya dari pabrik hingga penggunaan kembali atau daur ulang.

>>> Anthropic Rekrut Ekonom yang Anggap 33 Persen Risiko Kepunahan Manusia Bisa Diterima

Gelombang Baterai Bekas

China memproduksi 16 juta mobil listrik pada 2025, menurut International Energy Agency (IEA), menjadikannya pusat produksi EV terbesar di dunia.

Baterai yang kehilangan kapasitas untuk perjalanan jauh masih bisa digunakan untuk penyimpanan energi di gedung atau sistem tenaga terbarukan, namun sebagian harus dibongkar oleh profesional.

Identitas Digital untuk Setiap Baterai

Berdasarkan langkah sementara yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China serta lima departemen lain, setiap baterai daya akan menerima identitas digital.

Langkah ini mulai berlaku pada 1 April 2026.

Baterai harus meninggalkan catatan tentang siapa yang membuatnya, di mana dipasang, kapan diganti, siapa yang menanganinya, dan apakah berakhir di penggunaan kembali atau daur ulang.

Wang Peng, kepala departemen konservasi energi dan pemanfaatan komprehensif MIIT, mengatakan sistem ini menghubungkan kode unik baterai dengan seluruh perjalanannya melalui produksi, pemasangan, penggantian, daur ulang, dan penggunaan kembali.

Ia menyebutnya sebagai "inovasi institusional yang signifikan."

Titik Lemah: Daur Ulang Informal

Baterai EV bekas mengandung litium, nikel, kobalt, mangan, tembaga, aluminium, dan bahan berharga lain yang dapat dipulihkan.

Nilai ini menimbulkan masalah: calo tidak resmi dan bengkel kecil dapat membeli paket baterai bekas, membongkarnya dengan cepat, dan melewatkan langkah keselamatan serta lingkungan yang harus diikuti pendaur ulang formal.