Sebuah kampung di Jakarta Selatan, tepatnya di RT 11 RW 7 Kelurahan Gandaria Utara, Kebayoran Baru, berhasil melakukan transformasi luar biasa.

Dulu dikenal dengan julukan 'Gotham City' karena kondisi lingkungan yang memprihatinkan, kini kawasan tersebut berubah menjadi desa cerdas berbasis teknologi yang mengusung konsep Smart Green Safe Village 5.0: From Security to Sustainability.

>>> Popok Sekali Pakai Jadi Sumber Sampah Berbahaya, Peneliti Tawarkan Beberapa Solusi

Perubahan ini diprakarsai oleh Ketua RT setempat, Imam Basori, yang memiliki semangat untuk mengubah stigma negatif warganya.

Melalui pendekatan gotong royong dan pemanfaatan teknologi, kampung ini kini menjadi contoh pemberdayaan masyarakat yang sukses.

Awal Mula Perubahan: Dari Stigma Menuju Kebangkitan

Imam Basori menceritakan bahwa kondisi awal lingkungan sangat memprihatinkan.

Warga dari luar sering memandang rendah RT mereka, bahkan menyebutnya sebagai 'Gotham City'—sebuah analogi untuk kawasan yang gelap dan tidak aman.

'Jadi dulu masyarakat dipandang sebelah mata, selalu dibuat seperti RT yang paling terbelakang. Saya punya semangat untuk mengubah itu,' ujar Imam.

Langkah pertama yang dilakukan adalah membangun fondasi sosial.

Imam dan warga rutin menggelar pertemuan bulanan, merayakan ulang tahun bersama, dan mengadakan makan bersama hasil panen program ketahanan pangan.

Pendekatan emosional ini menjadi kunci agar masyarakat mau terlibat dalam setiap program. 'Kita menyatu, tidak ada perbedaan, tidak ada gap.

Semua sama posisinya, sama rata, sama rasa,' tambahnya.

Transparansi penuh terhadap penggunaan dana operasional RT juga diterapkan. Dana sebesar Rp2,5 juta per bulan dimaksimalkan untuk kepentingan lingkungan, tanpa iuran tambahan dari warga.

Filosofinya sederhana: dari warga, oleh warga, dan untuk warga.