Jagat media sosial kembali diwarnai tangis pilu yang mengiris hati. Sebuah video singkat yang memperlihatkan seorang anak perempuan berusia dini menangis histeris di atas jenazah ayahnya yang tewas dikeroyok massa, viral dan menyita perhatian publik, Minggu (26/7/2026).
 
Peristiwa tragis yang berujung pada hilangnya nyawa ini terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Korban berinisial KD, tewas usai diduga keras dikeroyok oleh warga setempat karena ketahuan mencuri ayam aduan.
 
Namun, di balik dugaan tindak pidana pencurian tersebut, tersisa duka yang tak terukur bagi keluarga yang ditinggalkan. Ironi pun tak terelakkan: sebuah nyawa manusia harus melayang hanya gara-gara seekor ayam aduan.
 

Detik-Detik Kepulangan yang Mengiris Hati

Momen kepulangan jenazah KD ke rumah duka menjadi saksi bisu betapa hancurnya hati keluarga yang ditinggalkan. Dalam video yang beredar luas, terlihat sang putri bungsu yang masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD) berada di tengah kerumunan warga.
 
Dengan suara parau dan tubuh bergetar, bocah malang itu terus memanggil-manggil ayahnya yang kini tak lagi bernyawa. Tangisannya yang memekakkan telinga seolah mewakili rasa ketidakpercayaan dan duka yang begitu dalam, memaksa siapa pun yang melihatnya turut meneteskan air mata.
 
 

Nasib Tiga Yatim dan Tangis Sang Perbekel

Korban diketahui merupakan warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Perbekel Desa Sidatapa, I Made Sutama, mengaku tak kuasa membendung kesedihannya saat harus menjemput langsung jenazah warganya yang menjadi korban amuk massa di kabupaten tetangga.
 
KD meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang kini harus menelan pilu kehilangan sosok pencari nafkah.
 
"Anaknya ada tiga. Yang paling besar sudah menikah, yang nomor dua baru kelas 1 SMA, dan yang paling kecil masih kelas 1 SD. Kemarin saya yang menjemput jenazahnya. Saat tiba di rumah, melihat anaknya menangis tersedu-sedu, saya benar-benar sedih," ungkap I Made Sutama dengan suara bergetar saat dikonfirmasi, Minggu (26/7/2026).
 
Kematian KD secara tiba-tiba tentu memberikan trauma mendalam, terutama bagi anak kedua yang masih berstatus pelajar SMA dan anak bungsunya yang belum sepenuhnya memahami konsep kematian