Selembar daun pisang yang dibuka memperlihatkan kue tradisional hangat di meja makan keluarga Masyarakat Adat Suku Tidung.

Makanan bernama kue pais ini tampak sederhana sebagai kudapan berbahan dasar singkong.

>>> Panduan Membersihkan Bunga Es di Freezer Secara Efektif Tanpa Merusak Perangkat

Namun, kudapan tersebut menyimpan ingatan masa lalu ketika beras sulit didapat oleh warga.

Singkong yang mudah ditanam lantas menjadi penopang kehidupan yang sangat penting bagi warga.

Tokoh Masyarakat Adat Tidung, Amiliah, menceritakan latar belakang kuliner tersebut.

Menurut cerita para orang tua, pais telah dikenal luas sejak masa penjajahan berlangsung.

Keterbatasan akses terhadap beras membuat masyarakat memanfaatkan singkong di sekitar.

Dari bahan sederhana berupa singkong, gula merah, dan kelapa, lahirlah kue tradisional tersebut.

Nama pais sendiri berasal dari bahasa Tidung yang memiliki arti pisau peraut rotan.

>>> Keanekaragaman Hayati Mengubah Gaya Hidup dan Ekonomi Hijau Nasional

Meskipun maknanya tidak berkaitan langsung dengan makanan, nama itu melekat sebagai identitas kuliner.

Proses Pembuatan dan Tantangan Generasi Muda

Masyarakat biasanya menggunakan varietas singkong lokal yang dikenal sebagai Sabai Seteria.

Singkong diparut, diperas, lalu dicampur dengan gula merah serta kelapa parut.

Sebagian keluarga menambahkan daun pandan dan pisang kepok matang untuk aroma yang harum.

Adonan tersebut kemudian dibungkus menggunakan daun pisang sebelum dikukus matang.

Pada masa lalu, alat pemarut bahkan dibuat sendiri dari kaleng bekas agar hasil parutan lebih halus.

Kue pais tidak hanya dihidangkan ketika acara adat besar berlangsung.

>>> Polemik Ijazah Jokowi, Tersangka Klaim Temukan Pembuat Dokumen

Warga menyajikannya saat berbuka puasa, sarapan pagi, hingga malam pembacaan Surah Yasin di rumah duka.

Namun, kebiasaan membuat kudapan tradisional ini kini mulai menghadapi tantangan zaman.

Amiliah menyatakan bahwa semakin sedikit anak muda yang mengetahui cara meracik pais.

Padahal, sebuah warisan kuliner hanya bisa bertahan jika terus dipraktikkan langsung.

Pihaknya berharap generasi muda mau belajar membuat pais agar warisan leluhur tidak punah.

Menjaga pais juga berarti merawat cerita mengenai alasan di balik kelahiran makanan tersebut.

Amiliah mengusulkan pengenalan pais melalui festival budaya dan media sosial.

>>> Lenovo ThinkPad T14s Gen 7 Snapdragon Edition Meluncur Global

Upaya tersebut dinilai efektif agar generasi muda mengenal sejarah di balik kelezatan kuliner tradisional ini.