Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) bisa digunakan sebagai bantalan tambahan apabila tekanan di pasar valuta asing (valas) meningkat.

Namun, ia menekankan fungsi instrumen ini perlu dipahami secara tepat.

>>> Kemenag Luncurkan Peaceful Muharam 1448 H, Perkuat Peran Sosial Umat

Menurut Josua, BCSA bukan alat utama untuk memperkuat nilai tukar rupiah secara harian seperti intervensi valas biasa.

Fungsinya lebih sebagai jaring pengaman yang menyediakan akses likuiditas dalam mata uang negara mitra.

Ia menjelaskan, BCSA dapat memperkuat kepercayaan pasar bahwa Bank Indonesia (BI) memiliki tambahan amunisi.

Instrumen ini juga mendukung transaksi perdagangan dan investasi dengan mata uang lokal serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi bilateral.

"Dalam kondisi sekarang, BCSA boleh saja disiapkan atau bahkan digunakan secara terbatas apabila tekanan likuiditas valas meningkat tajam, tetapi komunikasinya harus hati-hati," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Ia mengingatkan, jika diumumkan secara tidak tepat, pasar bisa salah membaca bahwa cadangan devisa Indonesia sudah tertekan serius.

Padahal, kondisi cadangan devisa masih memadai.

Karena itu, BCSA lebih baik ditempatkan sebagai bantalan berjaga-jaga, bukan sebagai tanda darurat.

Penggunaannya akan lebih efektif bila diarahkan untuk memastikan pasokan valas tetap tersedia dan mendukung transaksi perdagangan dengan negara mitra.

Josua mengatakan, efek BCSA terhadap nilai tukar rupiah cenderung tidak langsung. Dampak positifnya muncul dari peningkatan kepercayaan karena pasar melihat BI memiliki akses tambahan terhadap likuiditas luar negeri.

>>> Kylian Mbappe Belum Cetak Gol dalam Tiga Laga Uji Coba Prancis

Namun, BCSA tidak otomatis menarik dana asing masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham.