PT Bank Tabungan Negara (BTN) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen terhadap kualitas kredit pemilikan rumah (KPR).

Langkah antisipasi ini diambil untuk menjaga rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tetap terkendali di tengah tekanan ekonomi.

>>> Timnas U-19 Indonesia Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF 2026

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menyatakan bahwa NPL KPR BTN saat ini telah turun ke kisaran 2,8 persen.

Angka tersebut lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di kisaran 3,2 persen.

Penurunan rasio kredit bermasalah ini dicapai melalui penerapan underwriting yang lebih prudent, pengawasan debitur yang lebih intensif, serta transformasi pada proses collection.

Manajemen BTN juga memperkuat mitigasi risiko dengan seleksi penyaluran kredit yang lebih ketat, penguatan early warning system, dan pendekatan collection yang disesuaikan dengan profil risiko debitur.

BTN kini mengarahkan penyaluran KPR kepada nasabah dengan profil yang lebih kuat, seperti nasabah payroll maupun nasabah existing.

>>> Amerika Serikat Tolak Visa Delegasi Iran Jelang Piala Dunia 2026

Meskipun tekanan suku bunga dan kondisi makroekonomi menuntut kewaspadaan, BTN tetap optimistis kualitas kredit KPR dapat membaik secara bertahap.

Untuk target pertumbuhan, BTN membidik penyaluran KPR tumbuh 9 persen hingga 10 persen tahun ini dengan fokus pada debitur yang memiliki kapasitas pembayaran baik.

Berdasarkan catatan kinerja kuartal I-2026, penyaluran KPR non-subsidi BTN tumbuh 5,4 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 112,56 triliun.

Sementara itu, sektor KPR subsidi mengalami pertumbuhan sebesar 7,7 persen YoY hingga mencapai Rp 193,55 triliun.

>>> PT Pertamina Hulu Mahakam Resmi Operasikan Platform WPN-6 di Kalimantan Timur

Setiyo Wibowo menambahkan bahwa BTN juga akan menaikkan bunga floating secara bertahap.