Amerika Serikat resmi menjadi eksportir minyak terbesar di dunia pada Mei 2026.

Posisi ini diraih setelah volume ekspor minyak mentah dan bahan bakar melonjak hingga 10,5 juta barel per hari.

>>> Pertamina Perkuat Sinergi Operasional demi Jaga Ketahanan Energi

Data dari layanan pelacakan kapal Vortexa menunjukkan AS memuncaki peringkat global selama tiga bulan berturut-turut.

Lonjakan ini didorong oleh produksi minyak serpih yang tinggi serta gangguan jalur ekspor dari Rusia dan Arab Saudi.

Ekspor Rusia tertekan akibat sanksi Barat dan serangan drone, sementara pasokan Arab Saudi terganggu sejak awal tahun.

Akibatnya, volume ekspor Rusia pada Mei tercatat 7,0 juta barel per hari, sedangkan Arab Saudi hanya 5,9 juta barel per hari.

Dominasi Baru dan Dampak Geopolitik

Dominasi ekspor ini memberikan Washington instrumen diplomasi baru yang melengkapi kekuatan militer dan peran dolar AS.

>>> Harga Emas Digital 11 Juni 2026 Alami Penurunan, Minat Investasi Tetap Tinggi

Michelle Brouhard, kepala kebijakan di Kpler, menyebut AS kini memiliki instrumen energi yang sebelumnya tidak disadari.

Kekuatan baru AS diprediksi mengikis pengaruh OPEC, yang baru saja kehilangan Uni Emirat Arab setelah hampir 60 tahun.

Namun, Uni Eropa khawatir akan ketergantungan berlebihan pada energi AS di tengah ketegangan regulasi hijau dan tarif.

Berbeda dengan sistem negara di Rusia dan Arab Saudi, industri minyak AS digerakkan oleh sektor swasta berorientasi laba.

Kenneth Medlock III dari Baker Institute menyebut mekanisme ini murni pasar, bukan instrumen strategis negara.

>>> Bank Indonesia Proyeksikan Penjualan Eceran Mei 2026 Membaik

Penyerapan energi AS terus meluas. Eropa menyerap sekitar 47% dari total ekspor tahun ini, sementara Asia mencapai 46% pada Mei.