Kabupaten Rote Ndao dikenal sebagai wilayah paling selatan Indonesia. Namun, titik geografis paling selatan sebenarnya berada di Pulau Ndana.

Pulau Ndana terletak di Kecamatan Rote Barat Daya, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Letaknya dekat dengan perbatasan Australia.

>>> Lonjakan Harga Batu Bara Global Ancam Sektor Industri Nasional

Secara astronomis, pulau ini menjadi titik paling selatan Indonesia sekaligus benua Asia. Pulau Ndana juga masuk dalam daftar 111 pulau terluar yang ditetapkan pemerintah.

Tidak ada penduduk sipil yang menetap di Pulau Ndana. Kawasan ini dijaga oleh satuan tugas TNI yang bergantian setiap sembilan bulan.

Meski dijaga militer, masyarakat umum tetap boleh berkunjung. Pulau Ndana memiliki potensi alam khas dengan lanskap iklim kering NTT.

Berbagai fauna liar hidup di pulau ini, seperti rusa timor, itik liar, sanca timor, raja udang, tekukur, dan elang.

Ekosistem bawah lautnya juga kaya biota berwarna kebiruan yang menarik penyelam.

Perairan sekitar pulau menjadi habitat pari manta, penyu hijau, dugong, hingga hiu paus yang datang musiman.

Wisatawan dapat menyewa jasa operator lokal di Nemberala atau Desa Oeseli dengan memperhatikan musim, cuaca, dan arus laut.

>>> Trump Kecam Iran karena Tunda Negosiasi, Ancaman Konsekuensi Mengemuka

Kabupaten Rote Ndao dan Potensi Wisatanya

Kabupaten Rote Ndao resmi dibentuk pada 10 April 2002. Wilayahnya seluas 1.280,10 km² dengan populasi 152.613 jiwa (sensus 2024).

Secara administrasi, kabupaten ini memiliki 11 kecamatan, 7 kelurahan, dan 112 desa.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Rote Ndao pada 2023 mencapai 65,79, peringkat ke-15 dari 22 kabupaten/kota di NTT.

Sektor pariwisata andalan adalah Pantai Nembrala di Desa Nembrala, Kecamatan Rote Barat. Pantai ini menawarkan pasir putih dan ombak yang cocok untuk peselancar pemula hingga profesional.

Objek wisata populer lainnya adalah Pantai Batu Termanu di Kecamatan Rote Tengah. Lokasinya hanya 15 menit berkendara dari ibu kota Baa.

Pantai Batu Termanu memiliki dua batu raksasa: Batu Hun (batu laki-laki) di lepas pantai dan Batu Suelai (batu perempuan) di pesisir.

>>> Ketidakpastian Regulasi MLFF dan Truk ODOL Ganggu Ekosistem Bisnis Jalan Tol

Masyarakat setempat mengeramatkan kedua batu tersebut sebagai tempat ritual adat untuk memohon rezeki.