"Transparansi struktur bunga harus diperkuat.

Publik perlu tahu apakah kenaikan bunga kredit benar-benar proporsional dengan kenaikan biaya dana, atau sekadar strategi menjaga margin keuntungan," katanya.

Menanggapi kebijakan moneter tersebut, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyambut positif keputusan bank sentral.

Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menilai langkah pre-emptive tersebut menjadi bukti ketegasan bank sentral dalam memproteksi stabilitas nilai tukar rupiah dari guncangan global, seperti tensi geopolitik Timur Tengah dan fenomena capital outflow.

Langkah ini juga dipandang strategis guna mengamankan target inflasi nasional untuk periode 2026 dan 2027 agar tetap stabil di kisaran 2,5% plus minus 1%.

Manajemen Bank Mandiri berkomitmen untuk terus menjalankan fungsi intermediasi secara optimal dengan menerapkan prinsip kehati-hatian yang ketat dalam penyaluran kredit.

"Setiap penyesuaian suku bunga simpanan maupun kredit akan dilakukan secara terukur dan bertahap," ujar Adhika.

Sikap senada ditunjukkan oleh Direktur Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, yang menganggap respons BI mengerek suku bunga acuan merupakan keputusan strategis demi menahan kejatuhan rupiah yang sempat mendekati angka Rp 18.000 per dolar AS.

Allo Bank saat ini masih mengkaji kalkulasi penyesuaian bunga deposito. Meski demikian, potensi kenaikan bunga simpanan tersebut terbilang besar mengikuti arah kebijakan suku bunga acuan.

>>> John Herdman Lakukan Rotasi Skuad Timnas Indonesia Hadapi Mozambik

"Kinerja bank akan sedikit terpengaruh atas kenaikan BI Rate, namun pengaruh terbesar berasal dari antisipasi perlambatan ekonomi nasional akibat kondisi geopolitik dan kenaikan kurs dolar AS," ujarnya.