Dampak Kenaikan BI Rate Mulai Mengancam Biaya Dana dan Kredit Perbankan
Pandangan lain datang dari Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat.
Ia menilai lonjakan BI Rate berpotensi menjadi stimulus bagi perbankan untuk mendongkrak bunga kredit ke masyarakat secara instan.
Achmad menganalisis bank tidak akan terburu-buru menaikkan bunga deposito secara masif karena likuiditas industri masih tebal.
Penyesuaian justru menyasar cepat ke sektor kredit baru, kredit berbunga mengambang, KPR floating, kredit kendaraan, kartu kredit, hingga kredit modal kerja.
"Selama ini transmisi bunga perbankan cenderung tidak simetris. Saat BI Rate naik, bank cepat berbicara tentang kenaikan biaya dana dan kebutuhan menjaga margin.
Tetapi ketika suku bunga turun, bunga kredit tidak otomatis turun dengan kecepatan yang sama," ujarnya.
Industri perbankan dinilai masih memiliki bantalan kuat karena kredit tumbuh hampir dua digit, likuiditas melimpah, dan rasio kredit bermasalah (NPL) terkendali.
Pelaku perbankan sebenarnya punya ruang untuk tidak membebankan kenaikan bunga ini secara agresif kepada nasabah.
Achmad memberikan peringatan bahwa kelompok masyarakat kelas menengah, pelaku UMKM, sektor properti menengah ke bawah, serta usaha dengan margin tipis menjadi pihak yang paling rawan tergilas kebijakan ini.
"UMKM menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni biaya modal naik dan daya beli konsumen melemah," katanya.
Kritik juga diarahkan pada struktur pertumbuhan kredit yang dinilai terlalu berpusat pada lapisan korporasi besar dan bank pelat merah.
"Jika kredit hanya hidup di lapisan atas, maka ekonomi terlihat sehat di laporan bank, tetapi lesu di warung, bengkel, toko kecil, usaha kuliner, dan rumah tangga pekerja," ujarnya.
Melihat potensi ketimpangan tersebut, Achmad mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BI untuk memperketat pengawasan agar momentum kenaikan BI Rate tidak dieksploitasi untuk menaikkan bunga kredit secara berlebihan.
Update Terbaru
Cara agar Otak Menua dengan Sehat Menurut Ahli Neurologi, Bukan Diet
Jumat / 24-07-2026, 23:00 WIB
Piala AFF 2026: Pembuktian Nadeo Argawinata sebagai Kiper Utama Timnas Indonesia
Jumat / 24-07-2026, 22:59 WIB
Lee Min-ho Kembali Jadi Aktor Korea Terfavorit di Mata Penggemar Global
Jumat / 24-07-2026, 22:59 WIB
Penumpang Alphard Penerobos Pelican Crossing HI Ternyata Anggota Polda Jabar
Jumat / 24-07-2026, 22:59 WIB
Persija Hormati Sanksi KFA untuk Shin Tae Yong, Belum Ambil Sikap
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Hasil Piala AFF: Vietnam ke Puncak usai Bantai Timor Leste 7-0
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Speedboat Bawa 11 Wisatawan Asing Hilang Kontak di Perairan Gorontalo
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Fallout Co-Creator: Morrowind di Xbox Ubah Standar RPG Konsol
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Facebook Luncurkan Lencana 'Facebook Verified' Gratis untuk Lawan AI Palsu
Jumat / 24-07-2026, 22:49 WIB
Mengenal Profesi Mixologist, Peracik Minuman yang Kini Makin Diburu Industri F&B
Jumat / 24-07-2026, 22:49 WIB
Game Freak Bawa Interaksi Anjing ke Level Baru di Beast of Reincarnation
Jumat / 24-07-2026, 22:44 WIB
Bos Amazon Games: Harga Konsol dan Steam Machine di Atas $1.000 Dorong Minat ke Cloud Gaming
Jumat / 24-07-2026, 22:43 WIB
Video Promo Film Anime The Ribbon Hero Soroti Ikatan Pine dan Safir
Jumat / 24-07-2026, 22:43 WIB
Jensen Huang Posting Pertama di X, Dukung Model AI Terbuka
Jumat / 24-07-2026, 22:43 WIB







