Angka tersebut lebih rendah dari posisi Maret 2026.

Penurunan bunga kredit baru utamanya ditopang oleh kelompok bank BUMN.

Suku bunga kredit baru bank Himbara menyusut menjadi 7,31% pada April 2026 dari sebelumnya 7,84% pada Maret 2026 berkat kucuran tambahan likuiditas Rp 100 triliun pada Maret 2026.

Sebaliknya, kelompok bank pembangunan daerah (BPD), bank swasta nasional (BUSN), dan kantor cabang bank asing (KCBA) justru mencatatkan kenaikan bunga kredit baru.

Masing-masing naik menjadi 9,54%, 10,94%, dan 8,35%.

Pertumbuhan Kredit dan Risiko Sektoral

Pertumbuhan kredit perbankan masih kuat dengan capaian 9,98% secara tahunan (YoY) pada April 2026, naik dari Maret 2026 yang sebesar 9,49% YoY.

Pertumbuhan disokong oleh kredit investasi yang tumbuh 19,48% YoY, kredit modal kerja 6,04% YoY, dan kredit konsumsi 6,13% YoY.

Meski begitu, Josua mengingatkan kenaikan suku bunga bakal membuat pelaku usaha dan rumah tangga lebih berhati-hati.

Sektor yang paling rentan terdampak meliputi kredit kendaraan bermotor, KPR, kredit tanpa agunan, kartu kredit, hingga pembiayaan UMKM.

Saat ini, struktur pertumbuhan kredit masih didominasi oleh bank BUMN dan korporasi besar, terutama untuk membiayai proyek investasi serta program prioritas pemerintah.

Josua menegaskan pentingnya pemerataan penyaluran kredit ke sektor produktif swasta, UMKM sehat, pangan, energi, hilirisasi, konstruksi, perumahan, jasa produktif, hingga industri kreatif.

"Yang dibutuhkan adalah kualitas kredit, bukan sekadar mengejar pertumbuhan nominal," ujarnya.

>>> Michel Platini Gugat FIFA dan Gianni Infantino Terkait Sabotase Pencalonan

Target pertumbuhan kredit tahun ini dinilai masih realistis di kisaran 8% hingga 10%, meskipun ruang gerak ekspansi perbankan semakin menyempit.

Skenario paling mungkin menurut Josua adalah pertumbuhan kredit di angka 8% hingga 9,5% dengan syarat likuiditas kokoh, kenaikan bunga kredit tidak agresif, dan kualitas aset terjaga.