Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, mengakui bahwa menjual beras di retail modern merugi.

Pengakuan ini disampaikan dalam rapat kerja DPRD Jakarta.

>>> DEN Atur Mekanisme Sewa Fasilitas Penyimpanan Impor Migas Lemigas

Kerugian produsen beras sebenarnya sudah berlangsung berbulan-bulan. Namun, baru kali ini ada yang berani mengungkapkannya ke publik.

Food Station pun menghentikan penjualan beras di retail modern. Langkah ini diambil untuk menekan kerugian yang terus membengkak.

Korporasi Beras Merugi Bertahun-tahun

Kerugian produsen beras juga terlihat dari laporan keuangan PT Buyung Poetra Sembada Tbk. (HOKI) tahun 2025.

Perusahaan itu mencatat rugi bersih Rp34,24 miliar, naik lebih dari 11 kali lipat dibandingkan kerugian 2024 sebesar Rp3 miliar.

HOKI telah merugi tiga tahun berturut-turut.

Hal serupa dialami PT Wahana Inti Makmur Tbk. (NASI) yang mencatat rugi bersih Rp3,69 miliar pada 2025.

Kedua perusahaan tersebut merupakan korporasi produsen beras yang tercatat di bursa efek. Kerugian yang terus terjadi menimbulkan pertanyaan mengenai akar masalahnya.

Margin Harga yang Sempit Jadi Biang Kerok

Akar masalahnya adalah rentang harga atau margin antara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras yang sangat sempit.

Margin yang cukup diperlukan untuk menutup biaya penyimpanan dan distribusi.

>>> Lonjakan Harga Tiket Warnai Game 3 Final NBA di New York

Sejak tahun lalu, HPP gabah kering panen (GKP) di petani ditetapkan Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, produsen dibatasi oleh HET saat menjual beras ke konsumen.

Kebijakan perberasan dinilai lebih sarat pertimbangan politik daripada rasional ekonomi. Akibatnya, ruang untuk untung semakin sempit dan jaminan usaha berkelanjutan terancam.