PBB Ungkap Online Scam Bikin Asia Pasifik Rugi Rp2.041,7 T
Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mengungkapkan kerugian akibat penipuan daring (online scam) lintas batas di kawasan Asia Pasifik melonjak drastis hingga US$114,1 miliar atau setara Rp2.041,7 triliun sepanjang 2025.
Angka tersebut berdasarkan asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS. Kerugian ini menimpa korban di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, hingga Selandia Baru.
>>> Presiden CONMEBOL: Piala Dunia 2030 Diikuti 64 Tim
Mengutip laporan UNODC, nilai kerugian pada 2025 melonjak setidaknya tiga kali lipat dibandingkan estimasi 2023 yang berkisar antara US$18 miliar hingga US$37 miliar atau setara Rp322 triliun-Rp662 triliun.
PBB menilai lonjakan ini mencerminkan perluasan skala ekonomi kriminal yang dramatis di kawasan Asia.
China, Korsel, dan Taiwan Catat Kerugian Terbesar
Dalam laporan terbarunya, UNODC mencatat China, Korea Selatan, dan Taiwan menjadi wilayah dengan nilai kerugian terbesar akibat kejahatan siber dalam dua tahun terakhir.
Masing-masing mencatatkan kerugian hingga miliaran dolar AS.
Awalnya, kelompok kriminal terorganisir di Asia Tenggara menyasar pengguna internet berbahasa Mandarin.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jangkauan mereka meluas secara masif ke seluruh dunia melalui modus penipuan asmara palsu (romance scam) hingga investasi bodong mata uang kripto.
PBB juga menyoroti transformasi besar ekosistem kejahatan di Asia Tenggara selama satu dekade terakhir.
Kelompok kriminal yang sebelumnya lokal kini berubah menjadi jaringan transnasional yang terintegrasi dan canggih secara teknologi.
>>> Gavi Akhirnya Buka Suara usai Ribut dan Nyaris Ditonjok Paredes
Model bisnis sindikat ini dinilai sudah mengadopsi struktur manajemen korporasi modern yang saling terhubung untuk menjalankan pencucian uang, perdagangan manusia, hingga perbankan ilegal.
"Yang kita saksikan adalah pergeseran di mana kelompok-kelompok yang sebelumnya hanya beroperasi di wilayah geografis dan spesialisasi kriminal mereka sendiri kini beroperasi di berbagai pasar ilegal sekaligus," ujar Perwakilan Regional UNODC Delphine Schantz.
Update Terbaru
CEO Jagex Targetkan RuneScape Jadi MMO Nomor Satu, Geser World of Warcraft
Rabu / 22-07-2026, 05:35 WIB
Desainer Quest Cyberpunk 2077: Villa Eurodyne Masih Simpan Banyak Rahasia
Rabu / 22-07-2026, 05:35 WIB
Panduan Manga Musim Panas 2026: Rilis Baru dan Review Volume Pertama
Rabu / 22-07-2026, 05:35 WIB
Jadwal Anime dan Berita Terkini 18-21 Juli 2026
Rabu / 22-07-2026, 05:34 WIB
PYC Ungkap Celah Pengembangan Industri Baterai, Sinkronisasi Kebijakan Jadi Kunci
Rabu / 22-07-2026, 05:34 WIB
Tiket Museum George Lucas Ludes Terjual, Antrean Capai 5 Jam
Rabu / 22-07-2026, 05:34 WIB
Kadek Seina Maputra Juara Starbucks Barista Championship 2026, Siap Wakili Indonesia di Asia Pasifik
Rabu / 22-07-2026, 05:29 WIB
Tersangka Ledakkan Petasan di Depan Gedung Federal New York, Tiga Terluka
Rabu / 22-07-2026, 05:29 WIB
Konflik AS-Iran di Hormuz: Peluang bagi Rusia dan China di Asia Tenggara
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Milania Giudice Tari Bareng Adik yang Laporkan ke Polisi
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Kuda Pacu Adan Banuelos Kaget Tahu Bella Hadid Single
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Dustin Poirier: Bud Langsung Putus Kontrak Usai Penangkapan
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Ibu Nolan Wells Ajukan Permohonan Hukum untuk Tuntut Kematian Putranya
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB







