Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan sektor pertambangan dan penggalian mendominasi penyaluran pembiayaan alat berat pada industri multifinance.

Nilai pembiayaan untuk sektor tersebut mencapai Rp26,34 triliun per April 2026, mencakup 56,01% dari total penyaluran pembiayaan alat berat.

>>> Kebijakan Ekspor Satu Pintu Berpotensi Picu Penalti Eksportir Batu Bara

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyatakan total penyaluran pembiayaan alat berat industri multifinance mencapai Rp47,04 triliun per April 2026.

Lonjakan tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp10,16 miliar per April 2026.

Angka tersebut melesat 402,97% dibandingkan periode April 2025 yang senilai Rp2,02 miliar.

Prospek dan Tantangan Pembiayaan Alat Berat

OJK memperkirakan pertumbuhan pembiayaan alat berat ke depan tetap positif, meskipun akan menghadapi tantangan berupa tekanan harga beberapa komoditas.

>>> OJK Catat 19 Pinjol dengan Kredit Macet di Atas 5 Persen

Di sisi lain, total piutang pembiayaan multifinance tumbuh 2,08% secara tahunan menjadi Rp514,65 triliun per April 2026.

Pertumbuhan ini didorong oleh pembiayaan modal kerja yang naik 10,64% secara tahunan.

Pertumbuhan April 2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh 0,61% secara tahunan dengan total piutang Rp514,09 triliun.

>>> Rasulullah Menolak Tetapkan Harga Pasar Saat Komoditas di Madinah Melonjak

Namun, rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) gross industri multifinance naik menjadi 2,89% pada April 2026, memburuk dari 2,83% pada bulan sebelumnya dan 2,43% pada April 2025.