Indonesia resmi memulai pembangunan kapal produksi migas terapung terbesar di Asia Tenggara. Proyek bernama FPSO Bahtera Haluan Lestari ini berlokasi di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.

Fasilitas tersebut membutuhkan sekitar 145 ribu ton baja dan menelan investasi US$2,9 miliar.

>>> PWI Siak Desak Polres Tuntaskan Penyidikan Kekerasan terhadap Jurnalis

Pembangunannya memasuki tahap konstruksi setelah dilakukan pemotongan baja perdana di fasilitas PT Saipem Karimun Yard pada Kamis (23/7/2026).

Setelah rampung, FPSO Bahtera Haluan Lestari diproyeksikan menjadi yang terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Kapal ini juga masuk dalam kelompok FPSO terbesar di dunia.

Spesifikasi dan Teknologi FPSO Bahtera Haluan Lestari

CEO Searah North Ganal Mirko Araldi mengungkapkan bahwa FPSO ini memiliki panjang 350 meter, lebar 64 meter, tinggi 32 meter, dan bobot sekitar 147 ribu metrik ton.

FPSO itu dirancang untuk mengolah gas hingga 1 miliar kaki kubik per hari.

Fasilitas tersebut juga mampu mengolah cairan hidrokarbon sebanyak 80 ribu barel per hari dan memiliki kapasitas penyimpanan hingga 1,4 juta barel.

Fasilitas ini nantinya ditempatkan di wilayah pengembangan North Hub di Cekungan Kutai, Selat Makassar, lepas pantai Kalimantan Timur.

Lokasi operasinya berada di perairan ultra-dalam dengan kedalaman sekitar 2.000 meter.

Desain FPSO Bahtera Haluan Lestari mengintegrasikan sejumlah teknologi untuk meningkatkan efisiensi energi dan menekan emisi.

Teknologi tersebut mencakup penerapan zero flaring selama operasi normal, penggunaan mesin berbahan bakar gas dengan teknologi pengurangan emisi metana, pemanfaatan panas buangan, serta peningkatan efisiensi sistem pendingin.

Menurut Mirko, berbagai teknologi itu dapat menurunkan emisi gas rumah kaca lebih dari 50% dibandingkan standar industri.