Keterlibatan Industri Dalam Negeri dan Target Operasi

Pembangunan FPSO tersebut akan melibatkan kontraktor dan fasilitas fabrikasi dalam negeri.

>>> Reformasi BGN: Rasionalisasi Anggaran dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal

Sekitar 35 juta jam kerja dibutuhkan untuk proses fabrikasi dan integrasi modul topside dengan bobot mencapai 41 ribu metrik ton.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa pemotongan baja perdana menjadi penanda dimulainya proses fabrikasi struktur utama FPSO.

Nilai pembangunan FPSO tersebut mencapai hampir US$3 miliar, sementara nilai keseluruhan pengembangan proyek diperkirakan mendekati US$15 miliar.

Terkait kebutuhan material, Djoko mengatakan produk yang telah mampu dibuat oleh industri nasional akan digunakan dalam proyek.

Namun, sebagian material dengan spesifikasi tertentu masih harus didatangkan dari luar negeri, terutama pipa yang harus tahan tekanan di kedalaman 2.000 meter.

FPSO Bahtera Haluan Lestari ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada kuartal IV 2028, sejalan dengan onstreamnya proyek North Hub.

Fasilitas tersebut akan mendukung pengembangan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem yang memiliki sumber daya gas sekitar 6,6 triliun kaki kubik.

Proyek North Hub dikembangkan oleh Searah, perusahaan patungan antara Eni S. P.

A. asal Italia dan Petronas asal Malaysia dengan porsi kepemilikan masing-masing 50%.

Pembangunan proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja Indonesia.

>>> Penumpang Kereta Tembus 46,96 Juta, Asuransi Perjalanan Makin Diminati

Djoko meminta pembangunan FPSO dijalankan dengan prinsip tepat waktu, sesuai anggaran, sesuai ruang lingkup pekerjaan, serta memenuhi standar kualitas, keselamatan, dan lingkungan.