Kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi semakin sering menggunakan jet pribadi untuk menghadiri berbagai acara bergengsi dunia.

Hal ini terjadi di tengah guncangan industri penerbangan global akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang dipicu perang Iran.

>>> Xi Jinping Kunjungi Kim Jong Un di Pyongyang, Tegaskan Komitmen Bilateral

Fenomena tersebut terlihat jelas pada sejumlah ajang internasional seperti Grand Prix Monaco, Festival Film Cannes, hingga berbagai kegiatan olahraga dan hiburan kelas dunia.

Kalangan eksekutif perusahaan, selebritas, hingga atlet profesional memilih moda transportasi ini karena dinilai lebih aman dan fleksibel.

Pengamat industri menilai tren ini mencerminkan fenomena ekonomi berbentuk "K" (K-shaped economy).

Kondisi ketika kelompok berpendapatan tinggi terus meningkatkan pengeluaran mereka, sementara kelompok menengah dan bawah harus menekan konsumsi akibat tekanan ekonomi.

Biaya bahan bakar jet tercatat meningkat hampir dua kali lipat sejak perang pecah pada akhir Februari. Hal ini memaksa banyak maskapai penerbangan membatalkan penerbangan dan menaikkan harga tiket.

Serangan rudal dan drone di kawasan Teluk juga menyebabkan volume penerbangan di wilayah yang selama ini menjadi salah satu pusat konektivitas global tersebut turun hampir 50%.

Pemilik perusahaan penyewaan jet pribadi Platoon Aviation, Deniz Weissenborn, mengatakan para pelanggannya relatif tidak terpengaruh oleh kenaikan biaya perjalanan.

"Dunia memang sedang bergejolak, tetapi tidak dengan para penumpang kami," ujar Weissenborn.

"Jika Anda terbang menggunakan jet pribadi, saya rasa kenaikan biaya sebesar 1.000 hingga 2.000 euro bukanlah sesuatu yang menjadi masalah," kata Weissenborn.

Data perusahaan analisis penerbangan WINGX menunjukkan jumlah penerbangan jet pribadi secara global meningkat sekitar 4% sepanjang tahun ini.

Angka itu setara dengan tambahan ribuan perjalanan.