Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot signifikan sebesar 4,52 persen atau melemah 252,63 poin ke level 5.342,14 pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi tekanan global dan domestik yang membayangi pasar keuangan Indonesia.

>>> IHSG 8 Juni 2026 Anjlok 4,52 Persen ke Level 5.342

Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memperparah kondisi pasar modal. Iran meluncurkan serangan rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawatiran stabilitas kawasan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bursa Asia kompak melemah setelah serangan tersebut.

Faktor internal seperti derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar domestik serta pelemahan nilai tukar rupiah turut menekan pergerakan indeks.

Sentimen negatif investor di dalam negeri juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif dan lonjakan subsidi energi.

Secara analisis teknikal, pergerakan indeks dinilai masih memiliki kecenderungan untuk terus melemah dalam jangka pendek.

Maximilianus Nico Demus menjelaskan dengan probabilitas 72%, IHSG berpotensi menguji level 5.080. Level psikologis berikutnya berada di 5.000.

Saat ini pelaku pasar diimbau untuk memperhatikan rentang pergerakan indeks yang berada di area 5.180 hingga 5.380.

>>> Petugas Bea Cukai Masih Jaga Gerai Tiffany & Co di Plaza Indonesia

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengonfirmasi bahwa pergerakan indeks saham domestik saat ini masih berada di bawah tekanan jual yang masif.

IHSG masih didominasi tekanan jual dan berada dalam fase downtrend yang kuat, ujar Herditya.

Tekanan eksternal lainnya datang dari rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melebihi perkiraan pasar.

Hal ini memunculkan spekulasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga acuan di level tinggi lebih lama.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah terpantau melemah hingga menyentuh kisaran Rp18.200 per dolar Amerika Serikat, mengurangi minat investor terhadap aset berisiko.

Herditya Wicaksana mengatakan IHSG berpeluang menguat dengan support di 5.300 dan resistance di 5.386.

Untuk perdagangan hari Selasa (9/6/2026), pergerakan indeks berpotensi mengalami rebound terbatas.

>>> Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Naik Jadi Rp 123,8 Triliun per Mei 2026

Investor disarankan mengamati pergerakan rupiah, rilis data neraca perdagangan China dan Amerika Serikat, serta mencermati saham ASII (Rp4.690–Rp4.960), JPFA (Rp1.895–Rp2.160), dan NICL (Rp525–Rp630).