Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Mei 2026 mencapai Rp 123,8 triliun.

Angka tersebut tumbuh positif sebesar 0,7 persen secara tahunan, menandai perbaikan setelah tiga bulan awal tahun mengalami kontraksi.

>>> Bengkel Ungkap Solusi Hemat Atasi Kerusakan Baterai Motor Listrik

Sebelumnya, pada Januari penerimaan turun 14 persen, Februari 14,7 persen, dan Maret 12,6 persen.

Pemulihan mulai terlihat pada April dengan pertumbuhan 0,6 persen, dan berlanjut pada Mei.

Cukai Tembakau Dorong Pemulihan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pertumbuhan positif dua bulan berturut-turut menjadi sinyal baik bagi kinerja penerimaan negara ke depan.

"Bea cukai naik 0,7%, sudah positif dua bulan berturut-turut. Nanti akan naik lagi lebih bagus," ujar Purbaya dalam konferensi pers, Jumat (5/6).

Sektor cukai masih menjadi kontributor utama dengan penerimaan Rp 90,4 triliun.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai perbaikan ini menunjukkan efektivitas pengumpulan cukai rokok legal berkat pemberantasan rokok ilegal.

>>> Telkom Indonesia Rombak Jajaran Komisaris Lewat RUPST 2025

Data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat penindakan rokok ilegal naik 12,2 persen menjadi 6.880 kali, dengan volume barang yang diamankan melonjak 128,2 persen menjadi 865 juta batang.

"Kita lihat konsumsi rokok kemungkinan kembali meningkat, terutama rokok yang legal. Ini sejalan dengan upaya pemerintah memberantas bisnis rokok ilegal," kata Myrdal kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Bea Masuk Tumbuh Tertinggi, Bea Keluar Masih Terkontraksi

Penerimaan bea masuk tumbuh 9,7 persen menjadi Rp 21,5 triliun, didorong oleh impor bahan baku yang naik 10,67 persen.

Menkeu menjelaskan bahwa bea masuk terbantu oleh aktivitas free trade agreement dan kebutuhan domestik untuk impor.

Sementara itu, penerimaan bea keluar masih terkontraksi 8,9 persen menjadi Rp 11,9 triliun.

>>> Bahlil Lahadalia Terapkan Ekspor Batubara Satu Pintu Lewat DSI

Namun, penurunan ini mulai mereda seiring penguatan harga minyak sawit mentah (CPO) sejak Maret hingga Mei.