Harga emas spot mencatat penurunan 0,3% menjadi US$ 4.315,71 per ons pada perdagangan Senin (8/6/2026) pukul 07.25 GMT atau 14.25 WIB.

Logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 23 Maret, setelah pada Jumat pekan lalu juga merosot sekitar 3% ke posisi terendah dalam dua bulan terakhir.

>>> Arsenal Buka Peluang Lepas Leandro Trossard di Bursa Transfer Musim Panas

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ikut terkoreksi 0,6% ke US$ 4.341,10 per ons.

Analis Pasar Senior OANDA, Kelvin Wong, mengatakan pelemahan dipicu pergeseran ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed).

"Semua ini didasarkan pada sikap hawkish yang mulai diperhitungkan pasar terhadap kontrak berjangka The Fed," ujar Wong.

Peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) juga menekan harga emas.

Yield obligasi tenor 10 tahun merangkak naik setelah menyentuh level tertinggi dalam dua pekan, meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Di sisi lain, tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel meluncurkan serangan ke target militer di wilayah barat dan tengah Iran pada Senin.

Serangan itu terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump dilaporkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri.

Eskalasi tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari US$ 4 per barel, memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global dan potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.

>>> Prabowo Lantik Nanik S Deyang dan Said Iqbal di Istana Negara

Meskipun emas berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga acuan menjadi sentimen negatif karena meningkatkan daya tarik aset lain yang memberikan bunga.