Inflasi yang melonjak pada bulan ketiga dan keempat serta ekspektasi ekonomi yang melemah membuat kualitas pembiayaan memburuk.

>>> Persija Jakarta Resmi Rekrut Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru

Nailul menambahkan industri pinjaman daring harus waspada terhadap pertumbuhan pembiayaan yang masih tinggi agar tidak berbalik menjadi macet.

Ia menyarankan pelaku industri mulai mengerem laju penyaluran pinjaman untuk menjaga kualitas makro industri.

Ia melihat angka TWP90 bisa lebih tinggi lagi mengingat tuas rem penyaluran masih belum ditarik. Dalam keadaan memburuk, lebih baik mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas.

Strategi Pelaku Industri Menjaga Kualitas Kredit

Langkah antisipasi dijalankan oleh para pelaku usaha, salah satunya PT Amartha Mikro Fintek (Amartha). Penyaluran pembiayaan perusahaan ini akan disesuaikan dengan pergerakan ekonomi demi menjaga kualitas portofolio pinjaman.

Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan penyesuaian dilakukan sesuai kondisi ekonomi.

Jika ekonomi mendukung, penyaluran lebih banyak, sebaliknya mereka menahan diri dengan melihat kondisi UMKM yang didanai.

Aspek selektivitas pada sektor UMKM menjadi fokus utama, terutama untuk wilayah di luar Jawa yang mengalami kontraksi ekonomi.

Hingga Mei 2026, Amartha telah menyalurkan dana produktif lebih dari Rp 47 triliun kepada 4 juta UMKM dengan Tingkat Keberhasilan Bayar (TKB90) sebesar 95,14 persen.

Langkah pengetatan juga diterapkan oleh PT Info Tekno Siaga (Adapundi) melalui sistem underwriting yang selektif dan manajemen risiko yang ketat.

Direktur Operasional Adapundi Minerva Agustiani menyatakan langkah ini diambil untuk menjaga iklim bisnis yang berkelanjutan.

Adapundi membukukan pertumbuhan pembiayaan sebesar 5 persen per Maret 2026 dibanding periode sama tahun lalu.

>>> IHSG Anjlok ke Level 5.400, Aksi Jual Investor Membayangi Pasar

Hingga 7 Juni 2026, tingkat TWP90 Adapundi bertahan di posisi rendah, yakni 0,17 persen.