Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong para pelaku usaha dan petani untuk mempercepat ekspor berbagai komoditas perkebunan, termasuk kelapa sawit.

Langkah ini diambil sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

>>> Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 9 - 14 Juni 2026

Menurut Amran, pelemahan rupiah justru menjadi momentum positif bagi sektor perkebunan. "Khusus perkebunan itu kami dorong ekspor, termasuk sawit kita dorong.

Kenapa? Ini momentum yang baik.

Karena setiap ada masalah pasti ada sisi positif," ujarnya di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin (8/6/2026).

Penurunan nilai mata uang domestik diproyeksikan mampu mendongkrak daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional.

Kementerian Pertanian melihat adanya peluang peningkatan pendapatan bagi petani dan pelaku usaha pertanian melalui momentum ekonomi ini.

>>> Kawasaki Siap Luncurkan Motor Baru di Jakarta Fair Kemayoran 2026

Akselerasi pengiriman komoditas ke luar negeri juga menyasar sektor hortikultura dan produk pangan lain yang memiliki pangsa pasar internasional.

"Sisi positifnya bagi perkebunan adalah seluruh komoditas perkebunan, hortikultura, dan pangan yang diekspor kita dorong lebih cepat. Kita dorong cepat sehingga petani untung," kata Amran.

Berdasarkan data pasar pada Senin (8/6/2026) pukul 10.03 WIB, nilai tukar rupiah berada pada level Rp 18.156 per dolar Amerika Serikat.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan berada di posisi 5.434.

Pemerintah optimistis bahwa komoditas berorientasi ekspor akan mendapatkan keuntungan lebih tinggi karena nilai penerimaan dalam rupiah meningkat signifikan.

>>> Harga Emas Perhiasan di Raja Emas Indonesia dan The Palace 8 Juni 2026 Bergerak

Kondisi tekanan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan IHSG diperkirakan masih berlanjut hingga akhir Juni 2026.