Laju kenaikan harga pangan global mulai tertahan pada Mei 2026. Meski demikian, potensi inflasi pangan dinilai belum sepenuhnya mereda.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan Indeks Harga Pangan pada Mei 2026 mencapai 130,8 poin.

>>> Bank Indonesia Catat Uang Primer Tumbuh 14,2 Persen pada Mei 2026

Angka ini turun tipis 0,2 persen dibandingkan April yang berada di 131,0 poin.

Secara tahunan, indeks tersebut masih naik 2,9 persen. Posisi ini membuat indeks pangan bertahan di dekat level tertinggi sejak Januari 2023.

Koreksi indeks pangan global bulan ini terutama didorong oleh penurunan harga minyak nabati. Ini merupakan penurunan pertama sepanjang tahun ini.

Namun, penurunan lebih jauh terganjal oleh lonjakan harga sereal dan gula. Sektor sereal mencatat kenaikan harga lebih dari 2,6 persen secara bulanan.

Harga gandum melonjak selama empat bulan berturut-turut akibat penurunan proyeksi panen dari negara eksportir utama, termasuk Amerika Serikat.

FAO menyebut peningkatan ongkos produksi karena kenaikan harga bahan bakar dan pupuk yang dipicu konflik di Iran ikut membebani harga gandum.

Harga jagung mendapat sokongan dari tingginya permintaan impor. Pasokan yang semakin menipis di AS dan Brazil memperparah kondisi ini.

Sebaliknya, harga minyak nabati menyusut 4,6 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan drastis pada minyak sawit dan minyak kedelai mampu meredam kenaikan harga minyak bunga matahari serta rapeseed.

Pelemahan harga minyak sawit internasional terjadi setelah reli kenaikan selama lima bulan. Penurunan ini dipicu proyeksi lesunya permintaan impor dan situasi pasar energi global yang tidak menentu.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 18.179 per Dolar AS pada Awal Pekan