Kendati turun, harga minyak nabati secara umum masih 20 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Hambatan jalur distribusi di Selat Hormuz yang mendongkrak biaya energi ikut memacu peningkatan tren bahan bakar nabati.

Sementara itu, harga gula melonjak tajam 7,5 persen secara bulanan hingga mencapai 95,1 poin. Namun secara tahunan, harga gula masih 13,1 persen lebih rendah.

FAO menyebut kenaikan harga gula bersumber dari kecemasan pelaku pasar mengenai potensi kelangkaan pasokan global dalam beberapa bulan ke depan.

Di tengah situasi tersebut, FAO memberikan peringatan dini mengenai ancaman penurunan volume produksi pangan global untuk musim mendatang.

Total produksi sereal bumi termasuk beras giling diproyeksikan merosot 2 persen pada musim 2026/2027 menjadi sekitar 2,98 miliar ton.

Penyusutan produksi diprediksi melanda seluruh kelompok sereal utama, meski sebagian besar masih berangkat dari basis produksi tinggi pada 2025.

Penurunan hasil panen paling signifikan secara persentase akan terjadi pada gandum, sementara jagung dan jelai diperkirakan lebih minim.

Kondisi ini menunjukkan pasar pangan internasional masih di bawah bayang-bayang ketidakpastian pasokan.

>>> DPR dan Pemerintah Sinkronisasi Kebijakan Ekspor PT Danantara

Faktor risiko seperti hambatan produksi, tingginya ongkos energi, dan eskalasi ketegangan geopolitik diprediksi tetap menjadi motor utama pengendali harga pangan dunia.